WIGBI Workshop Guna Menyiapkan Brand Makanan Dan Fashion Untuk Export


Sebenernya agak2 maju mundur ketika saya mau menuliskan cerita tentang kehadiran saya di Workshop WIGB-I ini. Kenapa maju mundur, karena jujur minimnya bahan tulisan menjadi salah satu alasan. Event yang bertajuk Workshop “Preparing Your Food And Fashion Brand For Export”, menurut saya memakan waktu yang terlalu singkat. Para nara sumber hanya di berikan waktu tidak lebih dari 10 menit untuk menyampaikan setiap informasi yang ingin di bagikan. Jadinya informasi yang kami (peserta) dapatkan terasa sangat minim dan agak tanggung. Tapi sesedikit apapun informasi yang saya dapatkan, saya berniat untuk membagikannya. Karena ada cerita yang sangat menarik yang ingin saya bagikan di tulisan saya kali ini, yaitu cerita tentang Beasiswa/Awards yang bisa di raih oleh para Wanita Pengusaha produk makanan dan fashion dari WIGB-I.



Jadi Pada Hari Jumat tgl 19 Mei 2017 lalu, Kami Para Bloggers yang memiliki UKM dalam bidang Food and Fashion di undang untuk menghadiri undangan Networking Lunch dan  Worshop. Yah walaupun usaha brand aksesoris saya yang bertajuk sama dengan blog ini berkembang sangat lambat, kadang kembang kempis bahkan kadang mentok di tengah jalan, tapi saya cukup ngerasain bagaimana itu susahnya mengembangakn sebuah bisnis.



Workshop yang di adakan oleh WIGB-I (Woman In Global Business Indonesia) dan Australian Government (Australian Trade and Investment Comission), bertempat di Mallorca Ball Room – Lt.7 Hotel Melia Makassar. WIGB-I merupakan salah satu program yang buat oleh Pemerintah Australia bagi para Pengusaha Wanita Indonesia, dari banyak program yang ada salah satu programnya WIGB-I adalah memberikan program  Beasiswa bagi para Pengusaha Wanita yang bergerak di bidang Makanan dan Fashion. Nah, Workshop kali ini merupakan sebuah workshop pembekalan bagi para Pengusaha Wanita Se-Makassar dan SulSel untuk melek eksport dan meningkatkan produknya menjadi produk yang siap eksport.

Ms. Violet Rich memberikan pidato pembukaan

Worshop yang di mulai dari jam 13.50 – 17.00 Wita, di buka oleh Ms. Violet Rich (Australian Vice Consul General Makasar). Workshop singkat ini di isi oleh para pembicara yang bisa di bilang sangat mumpuni dalam bidang mereka masing2. Para Pembicara yang di daulat untuk mengisi acara sore itu adalah :

Dr. Matthew Durban sedang memberikan pidato singkatnya.

1. Dr. Matthew Durban ( Counsellor Commercial, Trade & Investment Commissioner Asutrade Jakarta)
2. Bp. Primanto Gunawan ( PT. Bank BRI, Tbk – Makassar)
3. Ida Farida ( Ketua Iwapi Makassar, Owner and Designer Label “ Ida Noer Haris”, WIGB-I Awardee)
4. Rita Suryaningsih ( Owner Sukmajahe, WIGB-I Awardee)
5. Astrid Vasile ( WIGB-I Advisory Board Member Australia Indonesia, Bussines Woman Network Perth WA)

Dari pidato singkat yang di bawakan oleh Dr. Matthew Durban, di katakan bahwa Australia merupakan Negara yang kaya dan memiliki GDP yang tinggi, dengan daya beli masyarakat Australia yang sangat tinggi hal tersebut membuat Australia menjadi pangsa pasar yang sangat potential bagi kegiatan eksport Indonesia kesana. Walaupun demikian ada banyak hal yang harus di perhatikan dan di lengkapi jika anda berniat menjual barang barang Makanan dan fashion ke sana. Selain ceklist dokumen eksport yang panjang, keamanan product yang di hasilkan ( aman dari zat berbahaya salah satunya) dan uniqueness merupakan beberapa point penting yang harus kita siapkan sebagai exporters.

Baca Juga : DIY Ladder Rack Serbaguna

In Australia we’re not only buying product, we buy your story “, kurang lebih begitu sepenggal kata yang di ucapkan Dr. Matthew Durban. Jadi jika kita berniat untuk mengeksport product Makanan dan fashion pastikan kita memproduksi barang yang mempunyai latar belakang cerita yang bisa di bagikan pada para pembelinya. 

Panel Diskusi dari Ki-Ka (Ibu Winy - Ibu Rita - Ibu Ida - Ibu Astrid)

Pernyataan Dr. Matthew Durban ini pun di dukung oleh Ibu Ida Farida, selaku penerima beasiswa WIGB-I 2016. Beliau sempat menceritakan bahwa masyarakat Australia sangat menyukai cerita dari sebuah produk yang di jual. Seperti produk Sutra Bugis, ada cerita dari sutra Bugis yang di jadikan produk fashion Ibu Ida. Cerita tentang sutra Bugis itu sendiri, cerita tentang bagaimana sebuah kain sutra di buat, cerita tentang siapa para pembuat kain sutra dan seterusnya. Terlebih ketika produk yang kita eksport merupakan produk yang ikut serta mengangkat perekonomian sebuah daerah dan ikut serta memberdayakan wanita wanita di daerah tersebut, bisa menjadi sebuah nilai tambah bagi produk tersebut.  Ketika produk kita memiliki kualitas dan uniqueness yang tinggi, besar sekali potensinya untuk di beli oleh Masyarakat Australia.

Untuk produk fashion para eksporter juga harus memperhatikan bahan yang di gunakan dalam membuat bahan dasar kain, jika itu adalah produk pakaian. Bahan kain pakaian yang di gunakan harus aman dengan menggunakan zat pewarna ramah lingkungan dan memiliki sertifikat tentang itu semua.

 Ibu Rita Menerangkan tentang kandungan dalam produk Sarabba yang membawanya ke Australia sebagai penerima Beasiswa

Sedangkan untuk product Makanan, Ibu Rita Suryaningsih memberikan informasinya bahwa produk makanan merupakan salah satu produk yang ribet jika mau di eksport. Ribet bukan berarti nggak mungkin ya. Produk makanan yang siap eksport pastinya harus sudah di uji di laboratorium, di cek semua kandungan yang terdapat dalam produk tersebut tanpa kecuali, harus mencantumkan jenis gula yang di gunakan apakah bisa di konsumsi oleh penderita diabetes atau enggak?, juga wajib mencantumkan apakah produk ini bisa memicu alergi. Terutama jika produk yang buat mengandung bahan dari kacang-kacangan. Seperti kita tahu orang bule banyak yang alergi kacang, dan bisa berakibat fatal jika kita tidak mencantumkannya. dan masih banyak lagi ceklist yang harus di siapkan. Selain itu pemasalahan packaging, product yang di siapkan untuk eksport harus memenuhi standar packaging di Australia. Nggak bisa sembarang di kardusin trus di kasih plastik bening kaya di sini ya he he he. Bahan slide masih panjang tetapi sayangnya kesempatan bicara Ibu Rita sudah habis. Sayang sekali info yang di berikan oleh pembicara di batasi sangat singkat. Sehingga informasi yang di dapatkan oleh kami (menurut saya) menjadi tidak Paripurna.

Selain itu sayang sekali pihak penyelengara Workshop tidak mengundang juga pihak dari Dept. Perdagangan Indonesia untuk ikut serta memberikan edukasi tentang dokumen apa saja yang harus di siapkan agar sebuah product bisa di katakana siap export, dan hal hal details lainnya.

Untuk melengkapi tulisan saya, saya mencari informasi lebih lengkap mengenai beasiswa dari website Australiawardsindonesia.org. Menurut Informasi dari Mba Winy (Moderator Workshop), Pemerintah memberikan beasiswa WIGB-I dalam 2 bentuk yaitu Short Term Courses Awards dan Long Term Awards. Untuk Short Term Awards di berikan kurang lebih 3-4 kali dalam setahun, dengan lamanya waktu 2-6minggu/ beasiswa. Sedangkan untuk Yang Longterm hanya di berikan 1 thn sekali.


Nah di mana bisa mendapatkan infomasi beasiswa yang sedang tersedia, silahkan kalian main2 ke situs ini : http://australiaawardsindonesia.org/ pantengin di sini infonya ya, saya juga sempat bertanya untuk beasiswa yang long term apakah di iklankan di media cetak Kompas (Karena waktu sebelum pindah ke Makassar kayanya saya pernah baca). Mba Winy bilang iya info beasiswa long term memang di iklankan di media cetak nasional.

Beasiswa Short Term Courses di berikan kepada 25 orang awardee yang berasal dari seluruh Indonesia dengan proses penyeleksian yang sangat tinggi dan kompetitif. Short Courses di lakukan selama 2-6 Minggu di Australia, peserta juga akan mengikuti lokakarya pra-kursus dan pasca-kursus selama 3 hari di Indonesia. Kursus akan di berikan oleh Universitas atau penyelia Pelatihan di Australia. Dan Penerima Beasiswa di fokuskan untuk para Wanita, Orang cacat dan peserta dari area yang di fokuskan secara geografis.

Penerima Penghargaan Jangka Pendek umumnya akan menerima manfaat sebagai berikut:

- Lokakarya pra-kursus dan pasca-kursus In-Indonesia, termasuk tiket pesawat pulang-pergi domestik ke lokasi lokakarya di Indonesia
- Akomodasi di In-Indonesia dan di-Australia dan uang saku
- Tiket pesawat pulang pergi internasional ke lokasi kursus singkat di Australia
- Biaya kuliah penuh
- Visa Australia dan asuransi kesehatan untuk jangka waktu Penghargaan Jangka Pendek

Untuk melihat Beasiswa Kursus Singkat/ Short Term Awards apa saja yang tersedia di tahun 2017, silahkan klik di Upcomingshorttermawards. Nah kalau mau tahu siapa ajah teman kita dari Indonesia yang merupakan penerima beasiswa kursus produk makanan silahkan baca profil dan testimony mereka di BookletFood, produkdan cerita mereka sangat inspiring sekali lho.
Nah untuk kalian para Wanita UKM Makanan dan Fashion hayuk silahkan siap2 untuk mendaftarkan diri kalian ke Beasiswa WIGB-I ini, nggak ada batasan umur qo. Kapan lagi bisa di kursusin gratis dan dapet ilmu banyak kaya gini. Selain itu menjadi Pengusaha dan Wanita Indonesia yang Mandiri dan mengangkat derajat kaum wanita lainnya merupakan tujuan yang sangat mulia.

Sekian, semoga tulisan saya bisa memberikan manfaat ya. Jangan lupa komen ya ..

Bloggers dan Business Owners
picture credit : http://www.qiahladkiya.com/

Borderless Experience of Taste Di Masakini Food and Gallery Makassar



Musim panas sudah mulai datang, terik nya Matahari dan hawa panas beneran bikin kepala saya migraine. Selesai dendong, saya ngendon aja di kamar ber ac sambil nyiapin camera dan lensa yang mau saya bawa siang ini ke Masakini Food & Gallery.

Sabtu siang jam 12 pas lagi terik teriknya ini saya dan teman teman Blogger MAM, janjian mau datang ke Masakini untuk mencicipi menu dan memotret ( baca : mereview ) di sana. Nggak lupa udah janjian juga pakai kaos yang ada nama blog masing2, ya begitulah kami para perempuan emang paling rempong sedunia. Mau review Resto ajah kudu seragaman, biar terlihat kompak dan seumuran *eh. Boleh lah saya merasa semuda Tari satu-satunya blogger yang bisa di bilang masih perawan ting ting siang itu, dimana yang lainnya sudah tidak perawan *eh maksudnya sudah emak2 (baca : MahMud) semua.


Panasnya siang itu bikin tenggorokan saya kering banget, mana perjalanan dari rumah saya di Jl. Daeng Tata Raya ke Masakini di Jl. Pengayoman No.34 terhadang banyak sekali lampu merah. Alhamdulillah  setelah 30 menit-an berkendara akhirnya nyampe juga, saya di drop Paksu di depan Masakini. Karena Paksu masih bingung mau ikutan turun apa mau cuss ke tempat lain, padahal saya maksa beliau untuk ikutan turun. Eh tapi dianya jual mahal *hiks.

Baca juga : Amatoa Resort Yang Instagrammable Banget

Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Teras bagian depan

Ketika turun dari mobil terbayang segelas mojito atau jus semangka di pelupuk mata, sayapun makin mempercepat langkah untuk segera masuk ke Masakini Food & Gallery. Pas masuk ke pintu gerbang Masakini, saya melihat di area Teras dan halaman terbentang banyak kursi dan meja yang ditata apik. Warna pastel dari fiddel back chair yang di cat dengan gaya sedikit rustic berjajar rapi di halaman depan. Selain itu dan ada juga dipan tempat tidur besi jaman jadul yang di hias jadi daybed dengan kelambu menjuntai dan bantal berwarna warni di bagian pojok halaman. Pemandangan yang cantik, bikin baper jadi pengen ngadopsi gaya interiornya untuk rumah kita.




Tapi karena haus maksimal focus saya tertuju lurus ke pintu masuk resto yang di dominasi oleh kaca ini, Gaya Industrial yang memang berciri bangunan seperti pergudangan, apartement lama atau loft banyak di dominasi oleh kusen besi dan kaca yang besar2. Kemudian saya langsung meraih peganngan pintu, dan langsung masuk nggak pake Assalammualaikum dulu. Emang situ mau ke rumah Pak RT pake Assalammualaikum. 

Di dalam Kafe beberapa teman Blogger sudah datang duluan dan berkumpul di meja yang paling besar di ruang lantai 1 ini, Langsung deh saya mingle di tengah tengah mereka. Seketika duduk manis dan melambaikan tangan pada Mba Waitress sebagai tanda meminta bantuan untuk membawakan daftar Menunya. Sambil lanjut chit chat ringan sama teman teman.

Setelah membolak balikan halaman sebanyak 2 kali untuk masing masing halaman, saya memutuskan untuk memesan Pinnaple Brezee dan Burger. Bosanlah makan Nasi, sudah berpuluh puluh tahun makan nasi terus, kalau ada kesempatan makan di luar biasanya saya memesan menu lain selain Nasi. Seperti makan burger atau bakso misalnya, itumah ngemil yaa bukan makan πŸ˜…


Suasana keriweuhan di meja Bloggers : )

Salah satu meja di Masakini Food & Gallery

Sambil menunggu pesanan saya selesai di buatkan, saya menyempatkan diri untuk melihat sekeliling dan memotret banyak bagian yang saya anggap cantik dan menarik. Kesan Pertama yang saya dapatkan dari Masakini adalah Cozy, Kekinian dan Instragammable sekali. Ujung ujungnya pengen tanya ini beli di mana kursinya, pajangannya πŸ˜…dasar ya emak2 di mana mana ya begitu.

Masakini Food & Gallery menampilkan interior design bergaya Industrial, dimana gaya ini banyak menampilkan tampilan yang raw dan edgy.  Terlihat dari beberapa bagian dinding di sini di dominasi oleh bata ekspose, unfinish wall tanpa setitik cat pun menutupi, pipa besi saluran listrik di tonjolkan sebagai salah satu element interior, dan kaca jendela dengan frame besi yang membingkai. Menggambarkan sang pemilik Restoran yaitu Ka Rini dan Suaminya yang berasal dari Norwegia pasti sering piknik.

Nah untuk para tamu Kafe yang membawa anak balita, di sediakan  ruang bermain anak2 di Lt. 1

Industrial Chic 


Tembok yang terlihat masih sangat raw ini banyak mendominasi bagian Resto

Dinding Bata ekspose juga dominant menyita perhatian bersama dengan Cogswell Chair bercover kanvas ini merupakan perpaduan yang penuh selera.

Gaya Industrial Modern di terjemahkan menjadi suasana Kafe yang cozy, unik dan nggak membosankan. Benar benar menunjukan bahwa sang pemilik juga punya taste dalam mendecor Kafenya. Menurut Obrolan yang sempat kami lakukan dengan Ka Rini, Ide terbentuknya Kafe ini adalah karena awalnya mereka ( Ka Rini & Suami ) memang suka memasak, selain itu suka nongkrong di restoran dan jalan jalan ( tuh kan bener kan mereka sering piknik ). Seiring waktu mereka berdua bercita cita membuat Kafe yang cozy seperti restoran dan tempat ngopi di Bali.  Akhirnya Mereka membuka Masakini Food & Gallery pada akhir tahun 2016. 

Pipa besi yang merupakan ciri khas dari gaya Industrial 

Masakini di buat dengan persiapan yang sangat matang dan details, seperti di ceritakan Ka Rini untuk tegel lantai Kafe ini merupakan tegel handmade yang mereka pesan dari pulau Jawa, dengan waktu pengerjaan sekitar 6 bulan-an. Furniturenya di pesan khusus juga dari berbagai daerah di Nusantara walaupun katanya  kebanyakan dari Bali, Mereka juga Meng-Hire Chef Consultant untuk menguji menu Kafe yang notabene merupakan resep mereka sendiri. Selain itu juga memikirkan dengan sangat details element dekor dan interiornya, supplier bahan bahan makanan yang sebagian merupakan bahan Import. Ka Rini juga memberikan informasi kalau semua hidangan di Restorannya bebas dari MSG, sengaja di buat begitu karena anak beliau alergi MSG.

Suasana Resto di Lantai 2, Meja makan dengan Salt chair berwarna warni menghiasi sebagian ruangan di Lt.2

Camel Back Sofa berwarna toska dengan padanan cushion bergambar James Dean ini bikin teteh pengen duduk lama lama sambil meluk babang James *eh Bantal James maksudnya πŸ˜†

Masakini kafe terdiri atas 3 lantai, dimana area lt.1 dan 2 di fungsikan sebagai kafe dan gallery, sedangkan lantai 3 bisa di gunakan sebagai meeting room, tempat workshop dan tempat untuk menggelar pesta.  Setiap lantai di kafe ini di design dengan gaya Industrial modern dan di dominasi oleh furniture berwarna warni dengan gaya mixed tetapi tetap chic dan keren. Venue yang pas banget buat kamu yang keranjingan photo2 untuk di upload ke Instagram. 

Lantai 1 dan 2 masing masing bisa menampung kurang lebih 50 orang untuk acara makan atau arisan. Menunya pun bisa di buat ekonomis dengan memilih menu paket 55rb, bisa mendapatkan 3 jenis menu dan 1 jenis minuman. Dengan Minimum order 20 menu paket. Cocok banget harganya untuk Arisan Ibuk ibuk yaa.

Beautiful salt chair di teras Lt.2 Kafe

Wastafel di Lt.2 yang bersebrangan dengan Toilet pun di dekorasi secara maksimal

Masakini Food and Gallery juga bisa di sewa untuk gunakan sebagai venue pemotretan seperti untuk photo prewedding misalnya, harga untuk pemotretan di sana di charge sebesar 500K/pemotretan. Kita bisa melakukan pemotretan di Restoran ini sepuasnya sampe selesai. Selain itu dengan membayar segitu, kalian juga akan mendapatkan komplemen berupa  1 pitcher es teh manis dan 1 paket chicken wings. Lumayan kan buat calon manten yang habis di potret pasti haus dan lapar ka yaaa, tapi inget kebaya yang udah di fitting lho karena jadi manten kan harus singset tho.

Lt.3 yang bisa di jadikan tempat meeting dan rencana kedepannya ingin di jadikan hall untuk menggelar pesta pernikahan.

Lampu yang menjadi salah satu dekorasi di Lt.1

Borderless Experience of Taste


Calamary, Harga : 29K+

Kebayang nggak kalau Barat dan Timur bertemu di atas piring, bakalan kaya apa jadinya?? Yang pasti itu ibarat makan 1 piring sambil ngeliat Sunrise sama Sunset dalam waktu yang bersamaan. Atau Rasa subuh ketemu magrib, atau rasa keju ketemu terasi he he he. Halahhh makin ngaco aja.

Masakini Food & Gallery mengusung style Fusion Restaurant, yang menggabungkan beberapa element dan cara masak dan tradisi dari beberapa tempat. Jadi nih di sini kita akan di manjakan oleh menu makanan hasil perpaduan western and Eastern food yang di padukan menjadi sebuah menu hidangan baru yang belum tentu ada di tempat lain.

Pizza Margaritha, Harga : 49K

Kenapa Judul tulisannya "Borderless Experience of Taste" yang artinya pengalaman rasa yang tak berbatas. Karena saya ingin menuliskan tentang makanan yang ada di Masakini kafe. Yang tak berbatas selera, cara memasak dan asal mula dari mana makanan itu berasal.  Yang namanya kafe atau resto pasti yang di jual adalah menu makanannya. Menu makanan yang di hidangkan pastinya harus memiliki rasa yang enak, cara penyajian yang bagus dan  memiliki menu yang berbeda dari kafe lain. Karena Menu yang berbeda dan tidak biasa, kemungkinan besar akan di ingat oleh para tamu yang datang ke sini.

Nah kalau kalian adalah type orang yang suka explore menu2 makanan di kafe/resto, Masakini merupakan tempat yang harus di masukan dalam bucket list kalian. Sama seperti saya yang suka icip icip menu makanan baru atau yang lagi ngehits, biar kekinian dan juga ingin merasakan kaya apa sih rasanya qo bisa hits banget.

Di Masakini Kafe kalian akan di manjakan oleh menu yang tak berbatas selera dan tempat dari mana makanan berasal. Menu yang berbeda dan unik karena 1 menu yang hidangkan di sini bisa jadi merupakan menu di bawa dari Itali, trus mampir ke India dulu baru deh di hidangkan di depan kalian.

Pengen tahu menu apaan ? coba ajah pesan Pizza Chicken Tandoor, yang merupakan hasil perpaduan menu Pizza dengan topping ayam tandoori yang di bumbui oleh berbagai macam rempah india yang terdapat di bumbu garam masala, di tambah yogurt, madu dan masih banyak lagi.

Begitupun dengan Pizza Rendang kebayang dong pizza yang biasanya di kasih topping tomat dan keju, tapi ini malah  di kasih rendang yang lezat, pedas dan ngangenin *eh. Ada juga Satay Baguette merupakan menu sate dengan saus kacang yang di serve dengan kentang goreng dan salad. Kalau kita kan masak sate biasanya pakai lontong atau nasi sepiring kan, tapi ini ibarat satenya babang Bule. Jadi ngebayangin Abang Leonardo Dicaprio nyobain satay πŸ˜…πŸ˜†. Dan pastinya masih banyak lagi menu Fusion food lainnya.


Masakini Burger, harga : 57K

Nah pesanan yang tadi saya pesan sudah tiba, saatnya menikmati hidangan di mulai. Burgernya nggak begitu besar pas lah untuk ukuran saya mah, pattynya lembut dan di seasoning dengan pas nggak berlebihan, potato wedgednya enak sekali crispy dan gurih banget, bumbu cocolannya juga cocok sekali untuk di cocol sama si kentang. Cuma saladnya kalau untuk saya lumayan pedes banget. Jadi dari pada asam lambung teteh naik, teteh nggak berani nyentuh saladnya. 

Minuman yang saya pesan : Pinnaple Breeze yang seger, asem manis ini cucok banget untuk menjadi padanan gurihnya Burger yang saya santap. Jus nanas yang manis asem di tambahkan sirup yang kental, membuat diri saya yang sudah manis ini jadi makin manis ajah. Jangan protes, yang protes berarti kurang piknik πŸ˜†πŸ˜…

Pinnaple Brezee, Harga : 30K

Striploin Steak, Harga : 175K

 Milkshake, Harga : 35K

Ice Cream 2 scoop only 20K

Nasi goreng satay kemangi, harga : 45K

Hot Taro Pandan, Harga : 29K

Dari beberapa makanan yang sempat saya cicipi ( Burger, Nasi goreng, calamary dan pizza ), Masakini Kafe benar benar mengusung citarasa Internasional. Dari setiap makanan yang di sajikan di bumbui dengan sangat cermat, jadi bisa masuk ke selera orang lokal dan WNA secara bersamaan. untuk kita yang biasa makanan yang berbumbu banyak, mungkin menu nasi goreng di sini akan kita rasa kurang asin, pedas dan kurang bawang putih πŸ˜“, karena itu Nasi gorengnya di sajikan dengan sambal tumis. Maklumkan orang indonesia sangat suka cecabean ( maaf bukan cabe2 ..... an lho), apalagi orang Makassar apa juga di kasih sambel. Makan gorengan ajah pakai sambel kan. Karena itu menu Nasinya di kasih tambahan sambal dan kecap secara terpisah, biar kalau kurang manis atau pedas bisa di tambahkan sendiri sesuai selera.

Menurut Ka Rini, Masakini Kafe sudah menjadi destinasi nongkrong para bule yang ada di Makassar. Pastinya karena menu yang di sajikan merupakan menu yang bisa mewakili selera para WNA. Walaupun Kafe ini bisa terbilang keren dan kekinian, tetapi Masakini sangat fleksible dalam mengakomodir selera dan pesanan dari pelangannya. Jadi nih kalau kita mau ngadain arisan, pesta ulang tahun atau mau pesan nasi box untuk selametan. Masakini Kafe bisa di bilang fleksibel dalam menetapkan harga dan menu yang di inginkan customer, tapi pastinya ada minimal paket pesanan yang harus di penuhi ya.

Khusus untuk Bulan Ramadhan besok Masakini Kafe akan mengeluarkan menu yang budget friendly untuk para pelanggannya. Akan ada promo di hari Senin (menu Indonesia) -Rabu (menu Makassar) -Jumat (menu Internasional), berupa paket buka puasa seharga 55k all you can eat. Haishhh hari gini makan di kafe cuma seharga 55K πŸ˜ƒ, plus bisa photo photo ala selegram di sini. Kayanya merupakan sebuah kemewahan yang wajib kita coba pas bulan Ramadhan besok
Sekian informasi dari saya, terima kasih dan  jangan lupa komen ya...

Segala rupa maenan yang bisa di mainkan ketika berkunjung di sini, ada congklak, catur dan masih banyak lagi 

Tebak kita lagi ngomongin siapa ?? *ups ngomongin apa maksudnya πŸ˜…

Makkunrai Anging Mamiri πŸ’“

untuk Daftar menu dan harga silahkan cek di : FB Masakini

Masakini Food and Gallery

Address : Jl. Pengayoman No.34, Massale Panakkukang, Kota Makassar Sulsel 90231
Phone : 0411 - 8911470
Hours : Everyday from 09.00AM-11.00PM

DIY Ladder Rack Serba Guna


Rak yang berbentuk tangga ( Ladder) merupakan salah satu product interior dan home dΓ©cor yang banyak di minati dan di jual pada saat ini. Banyak sekali toko atau department store khusus interior, home and living yang menjual ladder rack yang biasanya terbuat dari kayu. Salah satu contoh toko atau home depot yang menjual product semacam Ladder Rack adalah IKEA, IKEA menjual Ragrund ( Towel rack Chair ) seharga Rp. 799.000 yang terbuat dari bambu, merupakan produk multi fungsi sebagai towel rack (rak handuk) dan Kursi dalam 1 product. 



Ladder Rack bisa di bilang cukup nge hits banget beberapa tahun ini, semenjak berjamurnya toko OL dan semakin tingginya minat masyarakat Indonesia dalam menggunakan Internet. Banyak sekali pengrajin dalam negri yang juga ikut membuat product serupa, dan di jual secara Online di Medsos semacam Instagram. Contohnya Ig ifurnholic yang juga menjual hanger Ladder seharga Rp. 275.000, yang di jual secara Online.

Ladder Rack yang biasanya di gunakan sebagai gantungan handuk, di buat dari kayu solid dan merupakan furniture yang di peruntukan untuk area kamar mandi kita. Tapi Ladder Rack bisa juga di fungsikan menjadi gantungan selimut atau payer set untuk di taruh di kamar tidur, atau bisa juga di jadikan rak menyusun buku atau majalah yang sedang kita baca di ruang keluarga. Karena bentuknya yang simple dan slim, jadi tidak memakan terlalu banyak space.

Kalau saya rencananya mau memfungsikan Ladder Rack ini jadi gantungan kalung dan berbagai macam aksesoris kesukaan, biar gampang nyusunnya saya tambahkan kaitan berbentuk S dari IKEA. 
Membeli Ladder Rack merupakan cara yang paling gampang, apalagi semenjak toko online dan jasa titip belanja di Instagram. Kayanya kegiatan belanja jadi semakin mudah dan nggak ribet. Tapi setelah menimbang nimbang mau beli di mana akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat Ladder Rack sendiri saja, di bantu Paksu sih pastinya.



Karena Awie saat ini untuk sementara waktu tingga di Kota Makassar,makanya  saya memilih membuat sendiri Ladder Rack ala Fillyawie. Kenapa buat sendiri? Ngirit ya? Tentu saja mengirit he he he, selain mengirit membuat project DIY merupakan salah satu alasan kenapa saya menjadi Bloggers. Jadi inilah Project DIY terbaru dari saya, setelah sekian lama nggak bikin project apa apa.



Dan Alhamdulillah di Makassar saya mempunyai teman yang punya persediaan kayu yang melimpah, Alhamdulillah di berikan bahan Ladder Rack ini secara gratis oleh ka Eva, Ig nya @Eva_Camunu. Jadi tinggal membeli dan menyiapkan bahan yang lainnya. Yuk sama sama kita simak cara membuatnya :

Tutorial

Siapkan bahan bahan dan peralatan yang di perlukan, berupa :




1. Kayu Plywood uk. 18mm. Dengan ukuran A=  6x122cm : sebanyak 2 buah 
dan B = 2x30cm : sebanyak 4 buah
2. Amplas ( Sand Papper )
3. Paku
4. Cat (bisa cat tembok + cak akrilik atau cat kayu)
5. Kuas cat
6. Palu

Langkah langkahnya

Silahkan Cek video tutorialnya di Link Youtube Fillyawie




1. Hal pertama yang harus di lakukan adalah menggabungkan kayu plywood B ke kedua sisi kayu A. dengan cara memakunya. Gabungkan ke 4 buah Kayu B ke kayu A, hingga terbentuk sebuah bentuk Tangga.



2. Setelah selesai membentuk rangka tangga, haluskan setiap sisi bagian dari kayu dengan mengunakan Amplas. Agar permukaan kayunya halus dan mudah untuk di cat.



3. Setelah seluruh permukaan kayunya di Amplas,kalian bisa mulai membubuhkan cat. Mau cat warna apa dan merek apa? Bebas silahkan pakai warna dan merek yang anda suka. Kalau saya cat pakai putih biar matching sama kaca dan meja rias di kamar tidur. Karena rencananya memang mau saya taruh di sana.
Cat sebanyak 2 kali pengecatan, agar tekstur kayunya tertutup dengan baik. Kemudian di jemur sampai kering ya.




4. Setelah ladder rack kering maka selesai dan bisa langsung di pakai deh, Ladder Racknya bisa di fungsikan sebagai gantungan majalah, aksesoris atau mukena juga bisa. Karena kualitas kayu yang saya pakai bukan kayu solid, saya memang memfungsikannya sebagai rak mukena atau aksesoris, atau barang barang yang ringan nggak terlalu berat. Sebetulnya Ladder rak ini lucu juga kalau di bikin rak tanaman gantung, nah kalau mau bikin rak tanaman sebaiknya menggunakan kayu solid biar tangganya kuat menahan beban tanaman.





Semoga tulisan saya kali ini berguna ya, jangan lupa share dan komen di bawah ini. 

Selamat mencoba πŸ˜‰