Rabu, 09 Oktober 2019

Wayang Kapi-kapi di Wayang Jogja Night Carnival 2019



Yogyakarta menjadi kota yang selalu istimewa di hati saya, ayah saya  yang berasal dari kota ini membuat saya sudah akrab dengan Yogjakarta sedari saya kecil. 

Senyuman para penduduk dan keramahan yang ditawarkan, menjadi alasan mengapa Yogyakarta layak dianggap rumah bagi setiap jiwa-jiwa yang datang ke kota ini. Layaknya rumah, kota ini selalu memanggil untuk didatangi lagi dan lagi.

Seperti yang saya lakukan kali ini, saya datang lagi kedua kalinya di tahun 2019 ini. Tapi kedatang kali ini sangat Istimewa, karena saya datang untuk ikut serta merayakan dan melihat kemeriahan ulang tahun Kota Yogyakarta yang ke 263 secara langsung. Pun untuk menonton Wayang Jogja Night Carnival 2019.

Wayang Jogja Night Carnival


Kereta Wayang Urang Ayu

Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) merupakan event tahunan terbesar yang ada di Kota Yogyakarta, diselenggarakan setiap tanggal 7 Oktober bertepatan dengan hari ulang tahun Kota Yogyakarta. Pada tahun 2019, Wayang Jogja Night Carnival telah memasuki tahun yang ke-4, seperti tahun-tahun sebelumnya WJNC mengangkat tema wayang yang unik dan istimewa.

Wayang yang maksud bukalah wayang kulit atau pagelaran wayang orang seperti yang biasa kita lihat dalam pegelaran di gedung kesenian. Wayang Jogja Night Carnival adalah sebuah acara carnival wayang tematik dimana setiap tokoh, wayang, tarian, kostum dan hal lainnya yang dipertontokan dalam carnival dibuat sesuai dengan tokoh wayang yang dijadikan tema acaranya. 

Pada tahun 2019 wayang yang dijadikan tema WJNC adalah Ringgit Wanara Kagungan Dalem Kraton Ngayogyakarta atau biasa disebut dengan nama Wayang Kapi-Kapi.

Asal-usul Wayang Kapi-kapi




Sebelum acara Wayang Jogja Night Carnival 2019 dimulai, Ryan Wiedaryanto dan Yohana Margaretha yang menjadi host acara pada malam itu membacakan kisah tentang asal usul dari Wayang Kapi-kapi.

Dikisahkan bahwa Kapi-kapi muncul dalam lakon wayang “Senggana (Animan) Takon Bapa”. Pada saat itu Hanoman pergi ke kahyangan untuk bertanya pada para dewa, tentang kebenaran “Apakah benar Bathara Guru adalah ayahnya ?”. Namun saat bertemu Hanoman di hadapan para dewa, Bathara Guru tidak mau mengakui bahwa ia memiliki seorang anak berwujud kera.

Sampai akhirnya Hanoman mengamuk dan mengobrak-abrik kahyangan, hingga mengharuskan Bathara Bayu turun tangan untuk menghadapi Hanoman. Hanoman semakin tidak terkendali, sampai akhirnya Bathara Guru mengakui Hanoman adalah anaknya. Pengakuan telah dilakukan tapi Bathara guru malah diejek dan ditertawakan oleh Bathara Narada dan dewa lainnya.

Melihat dirinya ditertawakan, Bathara Guru akhirnya bersabda bahwa “ Kalian para dewa juga akan memiliki anak berwujud kera “. kemudian dalam sekejap di belakang para dewa muncul kera-kera yang beraneka ragam bentuknya.

Wayang Kapi-kapi merupakan wayang milik Kraton Yogyakarta yang cukup jarang dipertontonkan. Wayang ini bisa dibilang sangat unik, dengan perwujudan tubuh hewan yang mempresentasikan kehidupan dunia.

Pada acara WJNC 2019 ini akan menghadirkan 14 karakter dari Wayang Kapi-kapi, yang terdiri dari : Kapi Kingkin, Kapi Harima, Kapi Wraha, Kapi Warjita, Kapi Jaya Anala, Kapi Satabali, Kapi Liman Dhesthi, Kapi Premujabahu, Kapi Sembawa, Kapi Cocak Rawun, Kapi Endrajanu, Kapi Widagsi, Kapi Jaya Arina dan Kapi Trewilun.

Jogja Night Carnival 2019




Wayang Jogja Night Carnival 2019 merupakan event WJNC pertama yang saya hadiri. Sebelum datang dan meliput acara yang dimulai dari jam 18.00 Wib ini, kami para peserta #JogjaFamTrip2019 Travel Agent, Media dan Influencer yang berasal dari berbagai negara sudah diwanti-wanti untuk datang tepat waktu.

Mengingat acara ini dilaksanakan di Simpang Tugu, pada jam 18.00 Wib. Panggung para undangan VIP berada persis di depan Tugu Yogyakarta, sedangkan panggung media dan peserta FamTrip 2019 berada persis bersebarangan dengan panggung undangan.

Bapak Walikota Yogyakarta, Bp. Haryadi Suyuti saat membacakan pidato sambutan.

Pada Jam 17.00-18.00 Wib para peserta FamTrip dan media sudah harus menyantap makan malam lebih cepat di Restoran Honje, yang posisinya berada dilantai dua outlet Tas Dowa dan tidak jauh dari panggung media. Kami bahkan diminta untuk ke kamar kecil terlebih dahulu sebelum masuk ke area panggung media, karena acara ini akan berlangsung dari jam 18.00-21.00 Wib non stop, di mana area di luar panggung akan diberikan barikade pagar besi jadi rasanya tidak mungkin kami bisa bolak balik seenaknya ke kamar kecil.

Belum lagi para penonton berdesak-desakan berdiri di sisi kiri dan kanan jalan. Kebayang kan kalau kamu mau ke belakang kayak gemana, ya bisa saja sih kalau kamu adalah seorang Ant Man. Ant Man lagi nyamar jadi influencer, ya bisa bisa. 😎

Acara resmi dibuka oleh Bapak Wakil Gubernur DIY Sri Paduka paku Alam X, Bapak Walikota Yogyakarta Bp. Haryadi Suyuti beserta host Ryan Wiedaryanto dan Yohana Margaretha

Acara dimulai tepat pada jam 18.00Wib, diawali dengan pembacaan sambutan yang dilakukan oleh Bapak Walikota Yogyakarta, Bp. Haryadi Suyuti. Pidato dibukanya acara WJNC #4 secara resmi dilakukan oleh Bapak Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Paduka Paku Alam X.

Ratu Urang Ayu, berparas cantik namun berbadan udang dan bersuamikan Hanoman yang merupakan kera sakti madraguna.
Wayang Jogja Nighht Carnival #4 pun dibuka, dimulai dengan arak-arakan Wayang Kapi Ratu Ayu, Urang Ayu adalah perwujudan seorang Putri berbadan udang, putri cantik anak dari Baruna, raja penguasa laut yang berbadan Ikan dan bersuamikan Hanoman seorang kera sakti yang sangat termasyur.

Urang Ayu membawa serta para dayang yang menggunakan pakaian berwarna putih dan juga memiliki rambut dan kulit yang putih seperti susu. Urang Ayu juga membawa kendaraan berbentuk udang Raksasa berwarna silver yang megah.

Kapi Kingkin, kera dengan badan kepiting yang berjasa dalam pembangunan jembatan menuju Negara Ngalengka
Arak-arakan dilanjutkan dengan hadirnya Kapi Kingkin, wayang memiliki wajah kera dan berbadan kepiting. Para wayang menari dengan lincahnya dalam balutan busana kepiting berwarna-warni. Tidak lupa sang Induk kepiting juga turut diarak di belakangnya.

Kapi Jaya Harima dikenal cekatan dan memikili kekuatan yang diseganu oleh bala tentara Ngalengka.
Kapi Jaya Harima, merupakan salah satu kapi favorit saya dan rekan-rekan peserta famtrip. Patung Wayang Kapi Harima yang merupakan perwujudan kera dan harimau, terlihat sangat atraktif bisa menari meliuk-liuk mengikuti irama musik. Ada belasan orang yang bertugas untuk mengangkat dan menggerakan patung yang ukuran sangat besar tersebut, sehingga bisa terlihat sangat energic dan atraktif.



Wayang lainnya yang menarik perhatian saya adalah Kapi Trewilun, yang berbadan dan berekor seperti kera tapi memiliki kepala kelinci. Kapi ini dikenal lincah, mampu berjalan dan melewati tanah dan ahli membuat gorong-gorong. Arak-arakan Kapi Trewilun turut membawa wayang berbentuk pohon tinggi sekali, yang sebenarnya merupakan talent memakai kostum pohon. Agar terlihat tinggi talent tersebut berdiri menggunakan enggrang.

Bisa dibayangkan berapa banyak accident jatuh bangun yang harus dialami oleh peserta saat latihan memakai enggrang ?? Duh saya langsung membayangkan sakitnya jatuh dari enggrang, pasti rasanya lebih nyata dan perih dibandingkan dengan jatuh bangun mengejarmu ya kann.

---

Wayang Kapi Jaya Anala, kera yang memiliki rambut menyerupai api yang menyala.
Keempat belas kapi yang dihadirkan malam itu terlihat sangat atraktif dan menarik. Dari setiap kapi yang ditampilkan, bisa terlihat kreatifitas dan kecintaan masyarakat Jogja akan budayanya sangat tinggi dan tidak diragukan lagi.

Wayang perpaduan antara karakter kera dan hewan lainnya dibuat dengan sangat apik, mulai dari kostum, performance, patung besar yang bisa berjalan, lagu beserta musiknya terlihat sekali sudah dibuat dengan perencanaan yang sangat matang dan latihan yang keras.

Wayang Kapi Cocak Rawun, perpaduan antara burung dan kera yang memiliki keahlian terbang yang sangat tinggi, sehingga dapat mengetahui pergerakan musuh.
Arak-arakan demi arak-arakan Kapi-kapi menghadirkan cerita dan filosopinya sendiri-sendiri, yang patut kita maknai dan renungkan lebih dalam lagi.

Dikutip dari pernyataan Yetti Martanti, S.sos,M.M selaku show director WJNC yang menyebutkan bahwa “… Wayang Kapi-kapi sendiri mengajarkan agar kita harus saling mengayomi meski memiliki pribadi yang berbeda-beda, sangat pas untuk konteks seperti sekarang.”

Semoga dari sebuah carnival arak-arakan wayang Kapi-kapi ini ada makna dan filosopi hidup yang bisa kita jadikan pelajaraan yang bermanfaat. Bukan hanya sekedar pertunjukan yang menghibur saja.


3 komentar on "Wayang Kapi-kapi di Wayang Jogja Night Carnival 2019"
  1. Jatuh bangun mengejarmu, ahaii...ini lebih sulit daripada nahan buang air nggak Teh?
    Saya bayangkan betapa ramainya acara itu. Dan betul kata Tetah dan orang-orang, bahwa Jogyakarta selalu menarik untuk dikunjungi. Dari semua kota di Indonesia, kota inilah yang telah saya kunjungi lebih dari 3 kali. Sayangnya saya berkunjung pada saat tak ada peringatan apa-apa, jadi...yah cukup jalan-jalan saja dan belanja di pasar Bringharjo hehehe...

    BalasHapus
  2. Jatuh bangun mengejarmu, ahaii...ini lebih sulit daripada nahan buang air nggak Teh?
    Saya bayangkan betapa ramainya acara itu. Dan betul kata Tetah dan orang-orang, bahwa Jogyakarta selalu menarik untuk dikunjungi. Dari semua kota di Indonesia, kota inilah yang telah saya kunjungi lebih dari 3 kali. Sayangnya saya berkunjung pada saat tak ada peringatan apa-apa, jadi...yah cukup jalan-jalan saja dan belanja di pasar Bringharjo hehehe...

    BalasHapus
  3. Saya sulit mengenali tokoh wayang tapi suami saya bisa bercerita tentang tokoh wayang. Yang paling gampang dikenali kalo saya cuma Hanoman. Festival semacam ini keren, Teh. Wayang jadinya dekat terus dengan masyarakat.

    BalasHapus

Custom Post Signature

Custom Post  Signature