Tampilkan postingan dengan label Melaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melaka. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 Januari 2020

Masjid Bersejarah yang harus Kamu Datangi Saat Melancong ke Melaka

Saya di depan salah satu masjid bersejarah di Melaka, yaitu Masjid Tanah di Melaka.
Pergi melancong tidak melulu harus pergi ke tempat wisata yang kekinian, instagrammable atau  yang menawarkan atraksi dan pemandangan menarik. Mampir ke tempat ibadah yang memiliki bangunan berarsitektur menarik atau yang sarat akan cerita sejarah bisa menjadi alternatif destinasi untuk kita kunjungi saat melancong ke daerah atau negara lain.

Ya wisata seperti ini biasanya sering disebut dengan wisata religi. Wisata religi tidak hanya sekedar datang untuk beribadah atau rekreasi dan santai-santai saja. Saat mendatangi tempat beribadah seperti masjid contohnya biasanya tujuan utama kita adalah  untuk menunaikan ibadah sholat saja, padahal selain beribadah dan sekedar melepas penat datang ke masjid di daerah atau negara lain bisa kita jadikan sebagai sebuah kegiatan wisata.

Dengan melakukan wisata religi kita bisa mendapatkan dua manfaat, yaitu manfaat bertambahnya pengetahuan sejarah dan wawasan keagamaan juga manfaat ketenangan hati karena traveling jalan ibadahpun tetap jalan hal itu bisa memperdalam rasa spiritual yang kita miliki.

Kita juga bisa mendapatkan cerita yang melatar belakangi sejarah dibangunnya masjid yang kita datangi bahkan sejarah islam di masa lampau. Syukur-syukur kalau bisa jadi konten blog atau vlog, lumayan kan ada cerita bermanfaat yang bisa dibagikan.

Seperti yang saya dan teman-teman Vlogger dan Blogger dari Jakarta dan Malaysia lakukan ketika kami datang ke Melaka pada Agustus 2019 lalu. Selain mendatangi tempat wisata sejarah dan kekinian, tidak lupa kami pun berwisata religi dengan mendatangi tiga bangunan masjid yang unik, berarsitektur menarik dan sarat akan cerita dan sejarah.

Masjid Selat Melaka



Masjid Selat Melaka adalah masjid yang pertama kali saya datangi, persis di hari pertama saya sampai di Melaka sore harinya saat menjelang magrib saya dan teman-teman diajak mendatangi masjid ini. Pastinya bukan tanpa alasan kenapa kami datang saat sore hari.

Masjid Selat Melaka adalah masjid terapung yang posisinya persis berada di Selat Melaka, terletak di Kampung Bandar Hilir, Melaka. Bangunan Masjid Selat Melaka dibangun mengapung di atas Selat Malaka, dengan pondasi menancap di bawah air laut.


Bangunan Masjid Selat Melaka dipengaruhi oleh gaya arsitektur dari Melayu dan Timur Tengah  dengan kubah enamel berwarna emas dengan ukiran berwarna biru, membuat bangunan masjid terlihat sangat megah dan cantik. Bangunan masjid memiliki empat buah menara yang menyatu dengan bangunan masjid, terletak di sisi kiri dan kanan bagian depan dan belakang masjid, menurut informasi yang saya dapat bangunan menara seperti ini mengadopsi arsitektur Masjid Nabawi.


Terdapat juga menara pengeras suara setinggi 30meter jauh lebih tinggi dari empat menara yang menyatu dengan bangunan masjid, posisinya ada di bagian sayap kanan masjid terpisah dari bangunan utama Masjid Selat Melaka. Bagian belakang bangunan masjid ini menghadap langsung ke Selat Melaka, sehingga pemandangan lautan lepas yang merupakan selat terpanjang dan tersibuk di dunia bisa kita nikmati sejauh mata memandang cukup dilihat dari teras bagian belakang masjid.

Pada sore hari halaman Masjid Selat Melaka akan ramai, tidak hanya ramai oleh pengunjung yang akan melaksanakan ibadah Magrib saja. Area halaman masjid akan dipenuhi oleh para pengunjung dan wisatawan yang datang untuk melihat matahari tenggelam dari halaman masjid.

Para pengunjung dan wisatawan manca negara yang sedang menunggu sunset di dekat Masjid Selat Melaka
Saat saya berada di sana, tidak sedikit wisatan asing (bule) yang juga ikut duduk-duduk santuy  sambil menunggu detik-detik terbenamnya matahari. Hal ini mengingatkan saya akan Masid Amirul Mukminin yang ada di Pantai Losari, Makassar. Sama-sama masjid terapung yang juga sering dijadikan tempat untuk menikmati sunset di Kota Makassar.


Masjid ini bisa buka mulai jam 09.00-22.00, wisatawan boleh masuk dengan bebas asalkan berpakaian sopan dan rapih. Untuk wisatawan perempuan wajib menggunakan penutup kepala atau hijab, jika kalian tidak membawanya kalian bisa meminjam ke pengelola masjid.

Pekan Masjid Tanah Melaka




Masjid Tanah Melaka terletak di wilayah Alor Gajah Melaka, Malaysia. Masjid ini diberi nama masjid tanah karena asal bangunan masjid ini dibangun dari tanah, tepatnya tanah liat dan putih telur yang digunakan sebagai perekat. Bagian dinding masjid yang terbuat dari tanah masih disisakan sedikit agar bisa dilihat oleh pengunjung yang datang.


Saat saya datang ke sana, masjid ini sepertinya sedang dalam tahap renovasi. Renovasi yang sedang terhenti tepatnya, karena para pekerjanya sedang tidak ditempat. Tumpukan bata dan pasir juga terpal terlihat berserakan di bagian depan masjid. Walaupun tidak bisa masuk sampai ke area bagian dalam masjid karena dikunci, masjid ini masih bisa dikunjungi dan dilihat hanya sampai area teras.



Sisa bangunan masjid yang terbuat dari tanah liat masih bisa dilihat di sini.

Masjid Tanah termasuk bangunan bersejarah yang dilindungi oleh pemerintah Malaysia, menurut papan nama masjid yang saya lihat tergeletak di halaman masjid ini dibangun pada tahun 1900. Sedangkan menurut sejarah yang saya baca di Wikipedia, masjid ini dibangun pada tahun 1800an oleh Sheikh yang berasal dari Gujarat. Orang Malaysia yang juga ikut berkerja keras membangun masjid ini adalah Hj. Sulong bin Sibeng.

Pada zaman dahulu masjid ini menjadi tempat sholat untuk orang-orang dari beberapa kampung sekitar, pada masa itu bangunan masjid belum ada di setiap kampung. Masjid ini terletak di daerah kota perdagangan yang ramai dan persinggahan orang-orang yang melakukan perjalanan dari Melaka ke Alor Gajah, begitupun sebaliknya.

Walaupun usianya sudah berabad-abad lamanya, tetapi kondisi bangunan masjid ini masih terpelihara dengan sangat baik. Masjid satu lantai ini terletak diantara pemukiman dan area perdagangan yang cukup padat, bangunannya yang lawas terlihat kontras dengan bangunan lain di sekitarnya.

Begitulah seharusnya sebuah bangsa dalam menghargai sejarahnya, yaitu tetap menjaga dan memeliharanya bangunan bersejarahnya tanpa harus merubah apalagi merobohkannya hanya karena alasan usang atau mengejar keuntungan sesaat saja.

Masjid Datuk Machap


foto dari : @meran_johvi
" Awie orang Makassar, haruslah berkunjung ke Masjid Datuk Machap" Kak Yatie dari Malacca Tourism Board berkali-kali mengatakan hal ini kepada saya. Ya Masjid Datuk Machap sarat akan cerita sejarah dan perjuangan seorang kelahiran tanah Makassar, Sulawesi. Tentu saja saya dengan embel-embel Bloger Makassar wajib tahu dan datang ke je tempat ini.

Datuk Machap adalah seorang ulama Bugis yang berasal dari Makassar, beliau datang ke Melaka pada tahun 1500 untuk berdagang yaitu pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah. Kebaikan ahlak dan kepintaran beliau dalam berdagang menarik perhatian Sultan, hingga akhirnya Datuk Machap diangkat menjadi Imam Diraja.


Masjid Datuk Machap berada di dataran tingi yang dikelilingi oleh danau yang saat dijadikan sumber air untuk warga Melaka.
Pada saat Portugis datang menyerang Melaka pada tahun 1511, Datuk Machap ikut angkat senjata berjuang bersama umat islam untuk mengusir Portugis dari tanah Melaka. Sayangnya perjuangan Datuk Machap mengalami banyak tantangan, beliau bersama para pengikutnya terpaksa harus melarikan diri dari Melaka.

Bangunan masjid Datuk Machap saat ini
Datuk Machap dan pengikutnya pergi ke daerah Alor Gajah, di mana di tempat yang saat ini di sebut kampung Machap Lama beliau menemukan tanah tinggi. Di tanah itu kemudian beliau perintahkan untuk dibangun sebuah masjid sebagai tempat ibadah bagi dirinya dan pengikutnya. Bangunan masjid pada masa itu hanya dibuat dari kayu saja.

Bangunan Masjid Datuk Machap yang berdiri sampai saat ini, adalah bangunan yang sudah direnovasi menjadi bangunan permanen dari tembok. Masjid Datuk Machap bukan bangunan publik yang bisa dimasuki dengan bebas, untungnya kami datang dengan team dari Malacca Tourism Board jadi kami semua bisa dapat akses masuk untuk melihat bangunan masjid dari dekat dan tidak lupa untuk foto-foto cantik di sana.

---

Wisata religi dengan mendatangi Masjid bersejarah yang ada di Melaka telah memberikan wawasan tambahan bagi diri saya. Bahwa kebutuhan dan kebebasan beribadah adalah hak dasar manusia yang tidak boleh dibatasi oleh siapapun, bahkan di tahun 1500-an kurang lebih 6 abad yang lalu keberadaan tempat beribadah sudah menjadi kebutuhan utama dimana banyak orang dari desa lain rela pergi ke masjid yang berada di luar desanya.

Nah kalau kalian ada rencana pergi ke Melaka kira-kira masjid mana yang ingin kalian kunjungi terlebih dahulu ?




Senin, 26 Agustus 2019

5 Hal yang Membuat Galeri Demang Abdul Ghani di Melaka Unik dan Cantik


Melaka adalah salah satu destinasi wisata di Negara Jiran Malaysia yang secara letak geografis bisa dibilang berdekatan dengan kota Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan.

Menurut beberapa catatan sejarah juga disebutkan bahwa ada banyak kemiripan budaya, bahasa dan kebiasaan lainnya yang dimiliki oleh masyarakat di Melaka dengan kebudayaan yang ada di Palembang.

Cerita rakyat tentang asal usul kota Melaka dan Prabu Pameswara bisa dibilang menjadi salah satu bukti bahwa Palembang memiliki peran dan hubungan yang sangat dekat dengan Melaka.

Rumah Demang Abdul Ghani, Melaka


Bloger dan Vlogger Indonesia-Malaysia yang berkolaborasi meliput di Melaka
Kedekatan Indonesia dan Malaysia bisa dilihat dari banyaknya kemiripan yang dimiliki oleh kedua negara ini. Mulai dari kemiripan budaya, pakaian, kuliner, arsitektur bangunan dan masih banyak lagi. Ya tentu saja karena keduanya memang berasal dari satu rumpun, jadi wajar saja jika punya banyak kemiripan.

Saat satu kemiripian arsitektur bangunan rumah adatnya dengan Indonesia saya temukan saat saya datang ke Melaka, lebih tepatnya saat saya mengunjungi Galeri Abdul Ghani yang ada di Kota Melaka, Malaysia pada tanggal 24 Agustus 2019 bersama para teman Vlogger dan Blogger Indonesia dan Malaysia.

Bagian teras rumah bagian depan, yang dahulunya digunakan sebagai tempat menerima tamu, bermusyawarah dan tempay nerima laporan atau aduan dari masyarakat.
Galeri Abdul Ghani adalah sebuah rumah yang dibangun pada tahun 1894 oleh Abdul Ghani yang merupakan keturunan dari orang Palembang, Indonesia. Galeri ini juga sering disebut dengan sebutan Rumah Pengulu Natar atau Istana Merlimau, mungkin karena berada di jalan Merlimau jadi disebut dengan nama itu.

Pada zaman dulu rumah Abdul Gani tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal kepala kampung/daerah saja. Rumah ini juga dijadikan pusat administratif desa dan tempat untuk bermusyawarah dan berkumpul untuk membahas masalah dan banyak hal yang sedang terjadi di masyarakat.

Melaka
Bagian tengah galeri Abdul Ghani
Rumah ini terdiri dari tiga bangunan rumah, yaitu rumah utama yang berupa rumah panggung terletak bagian depan, digunakan sebagai kantor dan tempat tinggal. Bangunan kedua berada persis di belakang rumah utama, dulunya digunakan sebagai ruang untuk berkumpul para perempuan dan anak-anak saat siang hari, berupa bangunan rumah panggung yang dibuat dari kayu berwarna coklat.


Dinding kayu dengan pilar berlubang menghadap ke halaman belakang rumah yang luas dan lapang
Bangunan kedua ini merupakah bangunan rumah dengan area terbuka, dibagian depan bangunan dibangun tanpa dinding kayu sama sekali hanya diberi pagar kayu, sedangkan bagian belakang nya pun hanya ditutupi oleh dinding kayu dengan pilar kayu sebagai jendela dan lubang tempat keluar masuk angin. Dari dinding pilar kayu, kita bisa terlihat halaman belakang rumah yang sangat luas dan merasakan angin yang berhempus melewati lubang pilar.

Penjara yang terletak di rumah bagian belakang.
Bagian samping rumah belakang terdapat bangunan yang terdiri dari dua ruangan saling berhadapan dipisahkan oleh koridor yang tidak terlalu besar, satu ruangan digunakan sebagai dapur dan satunya lagi digunakan sebagai penjara. Bangunan rumah ketiga ini merupakan bangunan permanen berdinding tembok, ya mungkin karena sebagian fungsinya sebagai penjara jadi bangunannya dibuat permanen ya.

Ya rumah ini juga dulunya dijadikan sebagai tempat untuk menggelar sidang untuk tidak kejahatan yang terjadi di masyarakat, jika sang terdakwa terbukti bersalah akan dimasukan ke dalam sel yang berada di bagian belakang rumah.


5 Hal yang Membuat Galeri Demang Abdul Ghani di Melaka Unik dan Cantik




Galeri Abdul Ghani ini memiliki banyak sekali keunikan, tidak hanya bentuk bangunannya saja yang unik tapi cerita dan pengaruh budaya yang ada di rumah ini pun sangat beragam. Yuk kita intip apa saja keunikan tersebut.

1. Aristektur Bangunannya Dipengaruhi oleh 4 Negara Sekaligus, Indonesia Salah Satunya.


Menurut informasi dari Kak Yatie Sahlan, yang merupakan tour guide kami dari Tourism Board of Malacca, disebutkan bahwa arsitektur bangunannya dipengaruhi oleh bangunan yang ada di Malaysia, Palembang (Indonesia), Champa (Vietnam) dan Filipina.

Atap bangunannya mengadaptasi atap limas seperti bangunan rumah yang biasa dijumpai di Palembang dan juga di Malaysia.

2. Struktur Bangunan Dibuat dari Kayu Tanpa Menggunakan Paku





Sama seperti kebanyakan rumah tradisional yang dibuat kayu yang ada di Indonesia, biasanya dibangun dengan sistem knockdown tanpa paku. Rumah Galeri Abdul Ghani juga dibangun  tanpa menggunakan paku, menggunakan kayu keras berkualitas tinggi seperti Merbau, Cengal dan kayu jati. Pantas saja rumah ini masih bertahan dan berdiri tegak walaupun usianya sudah lebih dari seabad lamanya.

3. Ditinggali oleh 3 Generasi Penghulu


Tiga Generasi keluarga dan keturunan dari Abdul Ghani menempati rumah ini, uniknya semua keturunannya juga menjadi pemimpin desa yang biasa dipanggil dengan sebutan penghulu atau demang. Demang, mirip ya namanya dengan sebutan kepala distrik atau wedana pada masa penjajahan Belanda di Indonesia.

Ketiga keturunan Abdul Ghani yang mendiami rumah ini adalah, Penghulu Abdul Majid (1831-1834), Demang Abdul Ghani bin Abdul Majid (1834-1934) dan Penghulu Mat Natar bin Abdul Ghani (1934-1978). 

4. Penuh Warna



lantai keramik yang penuh warna
Istana Merlimau memang hanya sebuah rumah penghulu/demang tapi detail dari arsitektur rumah ini dibuat dengan sangat apik, cermat serta penuh warna. Karya seni berupa ukiran kayu bisa dijumpai di bagian rumah seperti jendela, pilar, dinding kayu dan lainnya.

Ukiran berbentuk naga berwarna merah dan emas yang terlihat di bagian depan dinding rumah memiliki arti kemakmuran dan kekuatan serta perlindungan. Selain ukiran yang sangat cantik, di area tangga dan beranda rumah dipasangi keramik lantai berwarna warni. Keramik yang berasal asli berasal dari Itali dan China ini terlihat sangat cantik menambahkan semarak suasana di area bagian depan rumah.

5. Tua Tetapi Tetap Instagrammable!



Usia satu abad lebih tidak membuat Galeri Abdul Ghani kehilangan pesonanya dan tetap bisa bersaing dengan tempat wisata kekinian yang dibangun atau eksis di masa kini. Segala sesuatu yang unik dan memiliki signature pastinya akan selalu memberi kesan kan yaa.

Begitupun dengan Galeri Abdul Ghani, keunikannya bisa dibilang masuk dalam kategori tempat yang sangat instagrammable, sulit untuk dilewatkan begitu saja. Setiap ruangan dan sudut rumah ini seperti menawarkan dirinya untuk diabadikan dalam foto, rumah ini menjadi bukti bahwa yang tua juga bisa terlihat kekinian.


Untuk kalian yang mau datang ke sini harap dicatat baik-baik Galeri Abdul Ghani buka dari hari Selasa-Minggu dari jam 09.00 Am - 17.30 Pm waktu Melaka, jadi hari Senin tutup ya. Tiket masuk yang harus dibayarkan ketika berkunjung ke sini adalah RM 3 untuk wisatawan domestik dan RM 5 untuk turis asing. Cukup murah ya, kalau di rupiahkan sekitar hampir Rp. 20.000 saja.

Alamat Galeri Abdul Ghani ada di Taman Merlimau Jaya, 77300 Melaka, Malaysia. Untuk kalian yang ingin pergi ke sini saat berkunjung ke Melaka, untuk urusan transportasi mungkin kalian bisa menggunakan Grab car atau Grab taxi ya.

Galeri Abdul Ghani merupakan salah satu destinasi wisata yang wajib masuk dalam daftar itinerary saat kalian berkunjung ke Melaka, saat berkunjung ke sini jangan lupa untuk menggunakan outfit yang mendukung ya, soalnya di tempat ini banyak sekali spot foto yang bagus. Lumayan lah kalau mau bikin setok foto instagram, bisa dapat banyak.




Sumber tambahan :
https://en.wikipedia.org/wiki/Demang_Abdul_Ghani_Gallery#cite_note-thatsofarah.com-8
http://thatsofarah.com/%EF%BB%BFrumah-demang-haji-abdul-ghani/
Sabtu, 24 Agustus 2019

Naik Balon Udara di Freeport A'Famosa Outlet Melaka



-Naik balon udara di Melaka -. Suatu waktu saya pernah berkata pada diri sendiri, " Suatu hari saya harus naik balon udara...". Naik balon udara masuk dalam daftar bucket list hal yang harus saya lakukan sebelum encok melanda alias tua 😅. Padahal membayangkannya saja sudah membuat jantung saya berdebar-debar, penasaran seperti apa kalau naik beneran 😁. 

Alhamdulillah keinginan saya akhirnya terwujud juga. Bisa naik hot air baloon alias balon udara, naiknya pun bukan di Makassar atau di Indonesia. Checklist naik balon udara saya laksanakan di Melaka, Malaysia.

Freeport A'Famosa Outlet




Tempat untuk naik balon udara di Melaka ada di area Freeport A'Famosa Outlet (FAO). Freeport A'Famosa Outlet adalah pusat perbelanjaan yang ada di area A'Famosa Resort, di daerah Alor Gajah Melaka, Malaysia. Resor yang memiliki luas sekitar 1300 hektar ini memiliki banyak sekali tempat wisata, penginapan, pusat perbelanjaan dan fasilitas untuk berolahraga yang bisa didatangi oleh para wisatawan.


A'Famosa Safari Wonderland, A'Famosa Water Theme Park, A'Famosa Old West dan Freeport A'Famosa Outlet merupakan beberapa tempat wisata dan belanja yang terdapat di komplek A'Famosa Resort. Untuk meng-eksplore komplek wisata yang luar biasa luas ini pastinya membutuhkan waktu lebih dari sehari.

Pada tanggal 16 Agustus 2019 lalu, di area Freeport A'Famosa Outlet baru saja dibuka wahana wisata naik balon udara. Menurut info dari Kak Yatie Sahlan dari Melaka Tourism Board, Wahana Wisata "Tethered Hot Air Baloon Experience" ini dibuka dari tanggal 16 Agustus - 15 November 2019. Jadi hanya akan dibuka selama tiga bulan saja ya.


Waktu untuk naik balon udara pun dibagi dalam dua waktu, yaitu pada pagi hari pada jam 07.30 am - 10.30 am dan sore hari pada jam 06.30pm - 09.30 pm. Sebagai infomasi saja kalau jam 06.30 di Melaka itu dekat dengan waktunya matahari terbenam, beda sama di Indonesia jam 06.00 pm sudah masuk waktu magrib, matahari sudah tenggelam dan langitpun terlihat sudah gelap.


Akhirnya Naik Balon Udara (Juga) di Melaka





Naik balon udara di Freeport A'Famosa Outlet merupakan bagian dari rangkaian acara kunjungan yang diadakan oleh Melaka Tourism Board. Ceritanya ada delapan orang vlogger dan blogger yang diundang untuk merasakan pengalaman naik balon udara di FAO ini. Empat orang vlogger dan media datang dari Melaka dan Kuala Lumpur, Malaysia dan empat vlogger dan blogger lainnya datang dari Indonesia. Tiga orang dari Jakarta dan saya satu-satunya yang mewakili Makassar, yey ewako Makassar. 💖

Kami berdelapan, jumlah total sebenarnya sekitar 12 orang karena datang bersama team dari Melaka Tourism Board sampai di Freeport A'Famosa Outlet pada jam 05.00 pm. Pas sampai di FAO, kami langsung di sambut dengan sangat ramah oleh pihak management FAO. Sambil menuju ke tempat balon udara yang berada di area terbuka tepat di samping outlet, kami diajak berjalan menyusuri area dalam outlet yang penuhi oleh outlet/toko. Jalan-jalan sambil cuci mata lihat diskonan di sana sini. 😍



Biasanya kalau di outlet barang branded seperti ini memang banyak sekali sale dan diskon yang ditawarkan. Apalagi di FAO ini terdapat lebih dari 70 outlet/toko yang terdiri dari brand fashion, sports dan aksesoris. Kebayang dong bahagianya ini mata pas lihat begitu banyak outlet yang masang sign board sale di sana sini.

Perjalanan dari lobby pintu masuk ke area naik balon udara memakan waktu sekitar 30 menitan, ya iyalah segitu lama soalnya setiap liat sign board sale bawaannya melipir mulu masuk dalam toko 😆. Saya, Hanum dan Mia bahkan sempat foto-foto dulu dan sholat ashar di mushola yang ada di dekat area lobby FAO.

Ketahuan tiketnya pakai gift voucher 😃, ya namanya juga kan undangan.

Harga tiket untuk naik balon udara adalah 100 RM untuk warga lokal dan 150RM  untuk turis asing seperti saya, kalau dirupiahkan sekitar Rp. 525.000. Harga yang bisa dibilang lumayan mahal untuk sebuah pengalaman naik balon udara sekitar 15-20 menit lamanya. Tapi cukup sepadan dengan pengalaman yang kita dapatkan.


Sebelum membeli tiket kami wajib mengisi form persetujuan yang isinya kurang lebih mengenai persetujuan atas resiko dan bahaya yang mungkin terjadi saat menaiki balon udara. Kami diminta untuk mengisi nomor passport dan memberikan nama serta tanda-tangan. Okelah bismillah aja, semoga nggak terjadi apa-apa pas naik balon udara.

Kelihatan kan tali yang mengikat balon udara, tiap tali dibebani oleh pemberat agar balon udara tidak terbang terlalu tinggi.
Balon udara yang akan kami naiki hanya akan terbang lurus ke atas, balon diikat pada tali lainnya yang sudah diberikan pemberat di bawah, agar posisi balon tetap steady tidak terbang terlalu tinggi. Terbang pun cuma lurus atas saja, alias nggak bisa terbang sambil jalan ke sana ke mari. Fyi Balon udara hanya bisa menahan berat sekitar 200 kg saja , karena itu untuk menaikinya kita harus gantian.

Ada sembilan orang yang akan naik balon udara, akhirnya kami membagi sembilan orang ini jadi 3 kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok @jalanjajan seru (Hanum-Mia-Ogie), Kelompok kedua @kammichanel dan @Melaka daily (Addy-Amir-Reza) dan saya masuk kelompok ketiga (Awie-@Meranjovfi-Abang Sham). 



Kelompok pertama naik pas detik-detik mau sunset jadi mereka yang dapat gambar dan pemandangan yang paling kece, plus mereka terbang lumayan lama sekitar 30 menitan ada di atas. Jadi pas giliran saya tiba, saya cuma kebagian pemandangan malam saja 😂.

Pemandangan dari atas balon udara
Bukit-bukit di A'Famosa Resort jadi terlihat hitam menjulang tapi lekuknya masih terlihat jelas dan indah. Lampu-lampu disekitaran A'Famosa Resort pun terlihat terang gemerlapan. Sayangnya baterei camera saya sudah mati, jadi saya cuma bisa mengabadikan gambar via handphone saya si OPPO F9, coba pakai F11 pasti hasil gambarnya lebih kece. #kodesemogadibacapaksu 😊



Kami terbang sekitar 15-20 menitan, nggak begitu terasa juga sih karena ternyata kalau sedang berada di atas itu rasanya adem dan hening banget. Tak banyak suara bising bakan suara angin pun tidak terdengar sama sekali. Semua yang dibawah pun terlihat sangat kecil, padahal kami hanya terbang beberapa puluh meter saja. Hati jadi makin adem, ngerasa kecil banget. Jadi pengingat untuk jangan sombong, tuh rang orang aja kelihatan kecil semua.



Selain kami bertiga, di dalam balon udara ada 2 orang teknisi yang ikut serta. Seorang pria berkebangsaan Turki yang saya lupa menanyakan namanya, beliau bertugas untuk memompa gas agar balon tetap terbang di udara, satu orang lagi bertugas untuk memegang tali yang diikatkan pada kotak keranjang tempat kami berdiri. 

Di bagian bawah masih ada sekitar 3 orang yang bertugas untuk memegang tali, mengulur saat balon udara naik dan menarik tali saat balon udara akan turun. Mereka juga bertugas menahan keranjang saat penumpang masuk dan keluar keranjang balon udara. Fyi penumpang yang memiliki berat badan lebih berat akan diminta untuk naik terlebih dahulu, tapi pada saat turun mereka yang diminta turun belakangan. Nggak di dunia nyata dan maya saja, ternyata di dunia berbalonan berat badan juga menjadi hal disorot. 😂


Picture source : instagram @yatiesahlan
Naik balon udara di Freeport A'Famosa Outlet Melaka menjadi salah satu bucket list checked yang amat saya syukuri, untuk itu saya berterima kasih sekali kepada Management FAO dan Melaka Tourism Board for making my dream come true

Untuk orang yang tidak takut ketinggian dan suka akan tantangan, naik balon udara menjadi sebuah pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup. Fyi menurut info yang saya dapatkan kemarin, wahana balon udara ini akan diperpanjang kehadirannya jikalau antusiasme dan peminatnya cukup banyak.

Nah untuk kalian yang belum sempat mencobanya, kalau kalian sedang berada di Melaka jangan ragu untuk mampir ke Freeport A'Famosa Outlet. Wahana balon udara seperti ini bisa dibilang cukup langka dan banyak orang sampai pergi ke Capadocia. Salah satu provinsi di Negara Turki hanya untuk menaiki balon udara.

Makanya saya merasa beruntung bisa naik balon udara di Melaka, nggak perlu jauh-jauh sampai ke Turki. Yuk mumpung masih ada waktu sampai bulan November 2019, mari sempatkan mampir untuk naik balon udara. Jangan lupa saat naik pastikan baterei camera atau handphone full, biar bisa foto-foto dan pamer-pamer di instagram. 😆

Custom Post Signature

Custom Post  Signature