Dengan Poligami, Apakah Pernikahan Bisa Happy ??

September 20, 2017



Tulisan ini adalah sebuah tulisan balasan dari tulisan trigger post #KEBloggingCollab yang ditulis Mba Aya ( Kartika Nugmalia). Mba Aya mengajak kami (Emak-emak anggota KEB group : Najwa Shihab) untuk menuliskan sebuah tulisan opini tentang poligami. Awalnya saya sempat kekurangan ide untuk menulis topik ini, karena bahasan kali ini bukan topik obrolan biasa ya Mak, luar biasa bikin pusing dan deg-degan. Ketika menulis ini saya berusaha santai dan berusaha menjaga mood positive, plus sambil megangin perut karena takut maag saya kambuh gara-gara memikirkan topik poligami ini 😀. Sebelum membaca tulisan balasan saya, sebaiknya baca tulisan Mba Aya dulu yuk : Ada Apa dengan Poligami

Kenapa kata poligami rasanya selalu identik dengan sebuah praktek berumah tangga  yang ada dan diajarkan dalam Islam ya ?. Padahal poligami itu tidak hanya ada di Islam doang lho. Seperti yang disebutkan oleh mba Aya dalam tulisannya bahwa praktek poligami sudah ada dari zaman kerajaan dari dahulu kala bahkan praktik poligami sudah dikenal dari awal peradaban manusia.

Masa iya begitu??

Sayapun setuju sekali dengan pendapat Mbak Aya, bukankah pada zaman dahulu kala seorang raja boleh memiliki istri lebih dari satu, belum lagi ratusan selir atau hareem yang juga dimilikinya. Bukankah hal itu merupakan hal yang lumrah dan sah-sah saja pada zaman itu. Pada masa itu adakah yang protes atau demo ketika sang Raja berpoligami?. Contohnya Raja Montezuma II dari kerajaan Aztec yang dikabarkan memiliki 4.000 selir. Pada masa itu menurut aturan masyarakat dan kebudayaan di sana bahwa para bangsawan wajib memiliki banyak banyak selir sesuai dengan kemampuan mereka 😮.

Pada zaman Rassulullah Muhammad SAW, turun ayat yang menjadi dalil poligami dengan membatasi poligami hanya sampai 4 istri. Pada saat itu Qois bin Tsabit merupakan salah satu sahabat Rassul SAW, yang ketika masuk islam sudah berpoligami dengan 8 istri. Ketika turun surat An-Nisa ayat 3, Rassullah SAW memerintahkan kepada Qois bin Tsabit untuk menikah hanya dengan 4 orang istri saja, kemudian harus menceraikan yang lainnya. ( CMIIW )

"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.[An-Nisa: 3]."
Jika kita baca ayat di atas, tersirat bahwa syarat utama poligami adalah keadilan, dan adil merupakan sebuah hal yang berat untuk dilakukan. Ini kalau menurut saya lho ya, ketika berbicara tentang rasa dan hati akan sangat sulit mengukur bentuk adil dalam pembagiannya. Lain halnya ketika kita diminta untuk memberikan hal yang tangible, seperti memberikan benda/makanan/rumah *eh. Rasa sayang, cinta dan benci adalah hal yang sulit untuk diukur dan ditimbang. Kalaupun ada sosok lelaki yang bisa adil dalam hal membagi hati, cinta dan kasih sayang, mungkin hal tersebut yang menjadi kunci suksesnya rumah tangga poligami. Sikap adil memang merupakan sikap yang sejatinya berat untuk dilakukan, hal inipun disebutkan pada kalimat pertama dari ayat 129 dari surat A-Nisa ini.

"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An-Nisa: 129] "

Poligami atau Monogami ?

Poligami bukanlah sebuah bahasan yang ringan apalagi menyenangkan untuk dibahas (ini menurut saya lho ya), ketika akan membicarakan hal ini dalam hati saya langsung terasa sedikit rasa getir, bimbang, takut bercampur dengan rasa ingin tahu yang besar. Apalagi ketika harus membicarakannya dengan suami, ada rasa sedikit bimbang ketika mau mengutarakan perihal poligami ini. Kenapa mak?? Takut #Zonk Mak 😅😆, kebanyakan tanya-tanya nanti disangka lagi dikasih angin segar dan sepoi sepoi lagi, kalau salah-salah ngomong stabilitas rumah tangga bisa terguncang *garuktembok. Untungnya saya kenal baik suami saya, kami memang sering membahas segala tetek bengek urusan rumah tangga, kami menganut prinsip boleh membicarakan apapun. Karena menurut kami yang penting itu bukan topik pembicaraannya, tapi dengan siapa hal ini dibahas. Lebih baik membahas banyak hal dengan suami dan keluarga terdekat, curhat sepuasnya bebas-bebas aja. Dibanding saya harus bebas curhat sama teman lelaki yang bukan mahram saya, begitupun sebaliknya.

Setiap keluarga memiliki nilai-nilai yang dianut dan dipakai dalam kehidupannya masing-masing, saya tidak sedang membandingkan keluarga manapun. Tetapi menurut saya, poligami atau monogami semua itu kembali lagi kepada diri kita masing-masing. Banyak keluarga yang sukses dengan praktik poligami, keluarga adem, ayem dan tentrem. Sudah banyak contohnya bukan? Mungkin kalian kenal Ustadz Arifin Ilham. Tapi banyak juga rumah tangga yang tidak bisa bertahan dengan kondisi suami beristri lebih dari satu. Begitupun dengan praktik monogami, tidak semua rumah tangga monogami sukses 100%, banyak juga yang gagal. Semua balik lagi ke prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh tiap rumah tangga.

Poligami atau monogami bukalah sebuah kunci kesuksesan dalam berumah tangga. Karena dalam berumah tangga dibutukan banyak hal lain selain kesetiaan dan komitmen, walaupun 2 hal tersebut merupakan salah satu faktor utama. Ketika saya memutuskan untuk menikah, pastinya saya sudah memastikan bahwa suami dan saya sudah menyetujui pakem-pakem dan nilai-nilai yang akan kita gunakan kelak ketika berumah tangga. Karena berumah tangga itu bukan perkara, "Ya udah jalanin aja dulu, apa yang terjadi ya gemana nanti..", yang pasti itu bukan prinsip saya. Menikah atas dasar cinta dan ingin bahagia sepertinya terdengar mainstream tapi hal tersebut memang sebaiknya harus ada untuk membangun pondasi berumah tangga yang kuat dan kokoh. Sebagai mahluk yang katanya diciptakan dari Mars dan Venus ini, suami dan istri memiliki banyak sekali perbedaan. Makanya ada baiknya kita berkompromi terlebih dahulu tentang hal-hal basic yang akan dihadapi di awal-awal pernikahan nanti. Jadi nih ya kalau pendekatan itu jangan cuma tanya kamu suka sama artis  atau group band siapa?? karena artis dan lagu yang kalian sama-sama sukai nggak akan membantu kalian melalui beratnya awal-awal masa berumah tangga *lho 😁.

Buat saya salah satunya termasuk membicarakan perkara poligami dan monogami diawal sebelum pernikahan terjadi, karena buat saya poligami atau monogami ini perkara pilihan sekaligus prinsip. Memilih berpoligami, dengan dibicarakan jauh hari akan lebih fair buat pasangan yang dinikahi. Dibanding ketika sudah lama menikah dan menjadi suami istri, di tengah jalan sang suami baru mengemukakan niat yang berbeda. Bukankah banyak yang begitu ya? ada sebagian yang sukses ada yang pernikahannya hancur berantakan. Padahal membangun rumah tangga itu susah banget lho, tapi memang panjang pendeknya masa berjodoh kita dengan pasangan pastinya sudah ditentukan oleh Allah SWT. Kita cuma bisa berusaha.

Semua balik lagi ke masing-masing personal, mau pilih yang mana sok lah bebaskeun. Yang penting keluarga ikhlas dan bahagia. Jika anda merasa poligami adalah sebuah konsep yang cocok dan baik dalam rumah tangga anda, sah-sah saja hal itu dilakukan. 1 hal yang harus kita ingat bahwa sebuah pernikahan adalah bentuk ikatan yang  mengikat 2 individu menjadi satu. Jadi sebuah pilihan dan keputusan yang dibuat baik oleh suami atau istri, pasti akan membawa baik manfaat atau akibat bagi pasangannya. Jadi saya setuju dengan saran Mba Aya, bahwa jujur dan mau berkomunikasi merupakan sebuah sikap yang wajib dilakukan, jika poligami adalah pilihannya.

Intermezzo


Buat saya dan suami perkara poligami merupakan urusan yang besar dan tidak mudah, dan bukan termasuk nilai-nilai yang kami anut. Bukan karena kami tidak mau taat terhadap perintah-NYA, tetapi lebih karena beratnya kehidupan saat ini. 

Bapak dan Ibu yang mungkin sedang membaca tulisan ini, yuk kita bayangkan jika Bapak dan Ibu merupakan masyarakat urban dengan tingkat perekonomian menengah kebawah yang berdomisili di daerah BoDeTaBek. Suami Ibu bekerja di Jakarta, dimana setiap habis subuh beliau harus berangkat kerja bisa dengan kendaraan sendiri. Kalau berangkat dengan mobil pribadi harus berangkat jam 05.15, kalau dengan motor bisa berangkat  jam 06.00, kalau naik commuterline bisa naik kereta yang 06.30 (udah maksimal banget ya ini). Pulang kerja minimal jam 20.00 udah alhamdulillah banget ini, Ibu-ibu bisa sumringah kalau Bapak bisa pulang jam segitu. Kalau lagi ada meeting atau hal-hal lainnya, bisa pulang ke rumah entah jam berapa. Kadang bertemu anak-anakpun susah, karena waktunya habis untuk berjibaku dengan kemacetan dan bekerja. 

Ibu-ibu banyak yang harus berperan ganda, sebagai ibu dan ayah sekaligus. Ya ngurus rumah, ya jadi supir juga, bahkan nggak sedikit ibu-ibu yang juga jadi mandor tukang bangunan. Buat para ibu hal tersebut bukan sebuah masalah besar, semua dilakukan sebisa mungkin demi terjaganya stabilitas rumah tangga agar aman dan bahagia. Bagaimana dengan Bapak? Buk, kalau ibu di suruh bayangkan Ibu pasti menangis. Bayangkan Bapak setiap pagi harus naik commuterline yang isinya padat sekali, dimana semua orang dempet-dempetan berebutan pegangan di dalam kereta agar tidak jatuh, berhimpitan bahkan tanpa jarak 1cm memisahkan. Naik kereta di jam orang kerja itu lebih sadis dan berat dari arena hunger games lho bu?. Bapak yang ketika berangkat tadi sudah ganteng dan wangi, ketika turun dari kereta api kayak apa tampilannya? mnding jangan dibayangin deh Bu. Belum lagi aksi dorong-dorongan ketika turun dari kereta api, mirip lomba tarik tambang waktu tujuh belas-an. Kalau ibu nggak percaya coba ibu tanyain ke bapak 😀.

Belum lagi kalau suami Ibu kerjaanya menyangkut tugas keliling daerah, jarang ada di rumah bahkan jarang ngajakin jajan (gemana mau jajan bareng, pulang aja enggak 😓). Akhirnya ibu harus berperan ganda menghandle banyak pekerjaan yang seharusnya dilakukan bersama-sama, seperti mengasuh anak contohnya. 

Hidup di zaman sekarang ini memang berat dan banyak tantangan, karena itu dibutuhkan kerjasama yang hebat antara bapak dan ibu sebagai kepala dalam rumah tangga. Karena tugas bapak dan ibu itu berat, yaitu membesarkan anak generasi millenial untuk siap hidup di zaman yang lebih luar biasa dari zaman orang tuanya. Mungkin ada baiknya bahagiakan dulu yang ke-1, baru kita bicara yang lainnya.

Kesimpulannya Poligami atau monogami semua balik lagi ke masing-masing individu yang menjalani pernikahan tersebut. Karena cuma kita yang tahu, dengan cara apa dan bagaimana kita bisa bahagia. Semoga tulisan ini bermanfaat, mohon maaf jika ada kata-kata dan opini yang menyinggung. 

You Might Also Like

29 comments

  1. Setuju Mba', yang atu mesti beres, baru boleh yang keduanya lagi, jangan yang satu ditelantarkan yang lain diagung-agungkan. Kan nggak adil namanya, huhu. Apalagi kalau yang kehidupannya sibuk kayak contoh di atas ya, duh lah kalo suami menikah lagi, bisa sebulan sekali anak2 baru ketemu ayahnya, :(
    Tapi balik ke keluarga masing-masing lah. Nice sharing Mba':)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, waktu saya masih tinggal di Tangsel saya merasakan sekali itu problematika suami sibuk sama urusan kerjaan dan kemacetan.
      1 dulu aja yaa, 1 aja belum tentu bahagia 😂🙏.

      Hapus
  2. Setuju makk... Menurut aku harus diomongin sebelum pernikahan. Walaupun mungkin banyak laki-laki yang awalnya ga berniat, tp seiring waktu dan sikon. Tp kalo dr awal aja udah niat, heuuu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, poligami bukan bahasan tabu yaaa. Dibicarakan sedari awal dengan fikiran dan hati terbuka, rasanya lebih firm dan fair baik untuk sang istri dan suami ya.

      Hapus
  3. kalau kita bahas poligami, kadang ada yang serang kalau kita gak patuh sama Alquran, lahh bukannya begitu ya padahal. kita cuma mau rumahtangga baik-baik aja, dan anak-anak kedepannya itu tidak terganggu masa depannya, kagipula poligami itu hanya untuk orang yang mampu adil, mampu untuk sama sekali tidak menyakiti hati istrinya dan istrinya harus ikhlas, lah isi hati mana yg tau kan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia yang paling susah itukan adil ya. Adil menurut suami belum tentu dirasa adil oleh istri. Iya bener banget bukan tidak taat, tapi buat apa poligami kalau keluarga berantakan. Terus istri dan anak jadi korban. Ya Allah, jangan sampe ya kaya gitu 😞.

      Hapus
  4. Saya bukan anti poligami, tapi bukan berarti akan menerima begitu saja kalau suami pengen nikah lagi dengan alasan yang ga masuk akal.. Ga mau jaaaa! 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Basically kebanyakan perempuan sama seperti Alfu, saya juga begitu. Poligami ini perkara besar dalam sebuah RT. Jadi sebaiknya benar2 dibicarakan dan difikirkan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk melakukannya.

      Hapus
  5. Walaupun udah selesai nulisnya, tapi kok masih berasa baperan ya mak, haha. Aku netral dulu deh, ga mau milih pro atau kontra soal poligami ini... >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk badai telah usai Mbak 😂😂. Mba Anindita mending mikirin persiapan dilamar ajah deh, dari pada mikirin poligami 😬😁.

      Hapus
  6. Di balik poligami pasti ada alasan tertentu. Tapi kebanyakan pelaku poligami buntut2nya akhirnya balik lagi ke yang pertama ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miris ya denger suami poligami, pas bagian udah sakit2an atau bangkrut trus baliknya ke istri 1. Dengernya aja nyesek 😞

      Hapus
  7. Harus siap lahir batin banget karena ngga mudah ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di suruh memilih sih, sepertinya nggak mau mempersiapkan lahir dan bathin untuk hal yang namanya poligami ini he he he. Terimakasih Mba sudah mampir :)

      Hapus
  8. 4 ribu seliiir. Waaaaaw...Btw, salut sama Ustadz Arifin Ilham ya. Akur2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk saya juga bingung itu gemana bikin jadwalnya Mak, 4K makkk wkwkwk.

      Hapus
  9. Saya belum menikah sih mnbak tapi kalau ditanya tentang poligami belum siap.hehe...Kalau mau poligami aku cariin aja buat istri ke 2 nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkw Mba ajah belum siap di poligami, kenapa mau mencarikan pasangan poligami buat orang lain.
      Diduakan pacar ajah sakit, apalagi kalau dipoligami terutama jika hal tsb dilakukan tanpa kejujuran dari pihak suami. Buktinya sudah banyak sekali cerita yang jadi viral dan buat geram banyak netizen. Semoga hal demikian bisa jadi pelajaran buat kita semua. Bahwa kesuksesan sebuah rumah tangga itu adalah sebuah proses yang sulit dibangun, butuh kerja keras dan itikad baik dari suami dan istri.

      Hapus
  10. Mending curhat sama suami daripada curhat di medsos. Hehehe. Btw, pembahasannya berat banget ya. Poligami itu kan sunnah, masih banyak sunnah2 lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan pahala. Pada akhirnya balik ke masing-masing pasangan. Karena pada dasarnya kita hidup untuk bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. WKwkwk curhat di medsos, big NO kalau buat saya.
      Kita hidup cuma 1x, jadi pastikan kita bahagia yaa. Iya, Insha Allah masih banyak cara untuk menggali pahala. Kalau untuk sunnah poligami, silahkan lakukan bagi yang merasa hal itu pas dan baik bagi keluarga dan hidupnya.

      Hapus
  11. Seorang teman pernah curhat tentang niatnya utk nikah siri. Saya nyatakan setuju, agar terhindar dari zina. Tetapi dgn satu syarat, pasangannya harus izin dulu ke istri pertama. Jika istri pertama ridho, silakan jalani. Setelah itu, tmnku sudah ndak pernah lg curhat sama saya hehehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he he Ka Ndy, saya setuju dengan saran Ka Ndy. Apapun alasannya sebuah pernikahan yang dibangun dibatas kejujuran, Insha Allah lebih sehat dan fair ya buat suami/istri.

      Hapus
  12. Adil dalam An-Nisa:3 itu memang tentang hal-hal yang terlihat mbak, misal nafkah, jatah bermalam, papan. Sementara adil dalam An-Nisa 129 adalah soal kecenderungan hati (kasih sayang dan cinta) dan selama perasaan suami yang pasti akan cenderung ke salah satu (karena perasaan manusia itu naik turun ya) tidak membuat ia menelantarkan salah 1, maka itu bukan bagian yang dihidangkan.
    Nabi sewaktu berpoligami, semua tahu bahwa yg paling dia cintai adalah Aisyah, para sahabat kalo mau memberi hadiah pada Nabi, menunggu nabi bermalam di rumah Aisyah, sehingga mereka akan bertamu ke rumah Aisyah dan bertemu dengan nabi yang dalam keadaan 'lebih' berbunga-bunga. Namun itu tetap membuat Nabi bersikap adil kepada yang lain dan tidak menelantarkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sorry typo, dihidangkan itu maksudnya dihisab atau dimintai pertanggungjawaban.

      Hapus
    2. Terimakasih Mba atas penjelasan lengkap dari surat an-Nisa di atas.

      Hapus
  13. Saya nda berani komen soal poligami Wie. Mau komen soal pendapat pribadi juga takut ada yang mengartikan sebaliknya. Jadi saya no coment mi saja Wie ala artis top begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik Ka Novie Ratnasari, saya paham sekali dengan maksud Ka Novie. Memang poligami ini perkara yang berat dan sensitive ya.

      Hapus
  14. Bicara soal poligamami bicara soal keadilan. Lalu adakah seseorang manusia yg bisa menjamin dirinya sudah berlaku adil? Aaahhh.... ngeri aahh Wi bicara soal poligami. Gak berani akuuhhh....

    Teman aku aja yg di poligami rasanya gak sanggup hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ka kalau membahas hal seperti ini sensitive sekali, kadang memang kadang lebih baik untuk tidak dibahas sama sekali. Untuk menjaga perasaan orang-orang terkasih yang mengalami dipoligami.

      Hapus

Follow Me

Press

Blogging Community