Upaya Bosowa Semen Membangun Indonesia Tanpa Pestisida

Agustus 30, 2017 fillyawie 17 Comments


Siapa yang tidak mengenal Bosowa? Perusahaan besar ini sudah saya dengar semenjak dahulu ketika masih tinggal di Tangerang Selatan. Perusahaan swasta nasional yang didirikan sejak tahun 1973 ini telah berhasil menjadi raksasa bisnis yang sangat terkenal di Indonesia, khususnya daerah Sulawesi Selatan. Bosowa memiliki 6 group usaha, salah satunya adalah Bosowa Semen perusahaan yang bergerak di industri semen.

Group Bosowa Semen berada diposisi ke 4 dalam persaingan perusahaan semen secara nasional. Memiliki kapasitas total produksi sebanyak 7,2 juta ton /tahun. Dimana total produksi semennya dihasilkan dari ketiga pabrik yang berada di Maros, Batam dan Banyuwangi. Saya sempat berkunjung ke pabriknya pada bulan Juli 2017 yang lalu. Pabrik yang berada di Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan ini merupakan pabrik utama Bosowa Semen, memiliki kapasitas produksi sebanyak 4,2 juta ton/tahun. 

Pabrik Maros merupakan pabrik yang berada di area penambangan kapur. Kapur yang ditambang di sana akan di proses menjadi clinker yaitu bahan baku semen. Pabrik yang berada dekat sekali dengan tempat wisata terkenal Rammang-rammang ini, di kelilingi oleh 3 Desa. Salahnya adalah Desa Tukamasea, desa yang menjadi salah satu tempat diselenggarakannya kegiatan Program CSR (Corporate Social Responsibility) Bosowa Semen.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Tukamasea


Ketika diberikan kesempatan datang ke acara Media Gathering Bosowa Semen pada bulan Juli 2017 lalu, saya mendapatkan informasi mengenai Program CSR KWT. KWT merupakan salah satu Program CSR yang bisa dibilang sudah cukup sukses berjalan. Program yang diluncurkan pada tanggal 07 November 2015 ini, menggandeng Badan Penyuluh Pertanian (BPT) Kecamatan Bantimurung sebagai pelaksana program. Program KWT ini menitik beratkan pada Program Budi Daya Tanaman Organik di pekarangan rumah. BPT akan bertindak sebagai mitra yang bertugas  memberikan penyuluhan, sosialisai program, pelatihan dan hal-hal terkait lainnya.

Desa Baruga dan Tukamasea adalah desa yang menjadi tempat dilaksanakannya Program CSR KWT ini. Seperti yang pernah saya baca di sebuah berita daring bahwa Kab. Maros memiliki kondisi tanah yang cukup kering dan iklim yang panas. Desa yang dikelilingi oleh karst dan perbukitan kapur yang panas, maka ketika musim kemarau datang sumber air menjadi sulit di dapatkan. Seperti dikutip dari laporan Badan Metreologi bahwa Kab. Maros memiliki suhu minimum 22,80᐀C dan maksimum 33,70᐀C. Lumayan panas bukan? Hal ini menjadi kendala yang harus dihadapi ketika memulai Program CSR ini.

Pekarangan rumah Ibu Lia

Bercocok tanam di wilayah beriklim panas pada musim kemarau ketika sumber air mulai terbatas, pastinya menjadi sebuah tantangan yang cukup berat. Tapi ketika saya tanyakan langsung kepada Bapak Abdul Rahman yang biasa dipanggil Pak Rahman, salah satu karyawan dibagian Comdev Bosowa Semen. Menurut jawaban beliau selain permasalahan air, tantangan berat yang dihadapi adalah merubah mindset warga tentang pentingnya makanan sehat yang bebas pestisida. Mengenalkan betapa pentingnya makanan organik bagi kesehatan keluarga, merupakan sebuah usaha yang harus dilakukan secara  terus menerus dan berkesinambungan. Sampai akhirnya kita bisa merasakan sendiri manfaat dari program ini.

Program CSR ini memang menyasar para Wanita alias para Ibu rumah tangga. Untuk mengetahui alasan kenapa memilih para Ibu-ibu sebagai anggota KWT, saya sempat berbincang melalui telephone dengan Bapak Nur Alang yang merupakan Comdev&Environment dept. Head di Bosowa Semen. Dalam wawancara singkat tersebut beliau menyampaikan bahwa Bosowa Semen sangat peduli dengan kondisi masyarakat sekitar. Terutama pada kondisi tumbuh kembang anak-anak di desa yang berada disekitar pabrik, untuk mencetak anak-anak yang sehat dan cerdas pastinya dibutuhkan asupan gizi yang baik dan seimbang. Karena itu Bosowa Semen memilih Program CSR KWT ini sebagai salah satu upaya dalam mencetak generasi penerus desa yang sehat dan cerdas dengan asupan makanan yang bebas pestisida . 

Hal tersebut dimulai dari para Ibu-ibu, Ratu yang merangkap sebagai manager dan koki dalam rumah tangga. Selain itu Ibu juga bertugas memelihara kondisi kesehatan keluarga, karena jika keluarga sehat ibu bahagia. Ibu bahagia, keluarga akan lebih berbahagia.

Menanam Tanaman Organik 

Tanaman sawi seperti ini terdapat di pekarangan rumah para anggota KWT di desa Tukamasea 

Sebelum kita lanjutkan cerita ini, mari kita telaah terlebih dahulu arti tanaman organik. Apakah itu tanaman organik?

Penjelasan menurut Wikipedia adalah sebagai berikut : " Pertanian organik adalah sistem budi daya pertanian yang mengandalkan bahan bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Pengolahan pertanian di dasarkan prinsip kesehatan, ekologi, keadilan dan perlindungan. "

Program CSR Budi Daya Tanaman Organik yang bekerja sama dengan pihak BPT Kec. Bantimurung ini bertujuan agar para wanita desa menanam sayuran organik yang menyehatkan keluarga. Demi mendorong tumbuhnya generasi yang sehat dengan ketahanan tubuh yang baik, cerdas juga menjadi generasi yang menghargai alam. Karena asupan makanan merupakan salah satu faktor penentu tumbuh kembang dan tingkat kecerdasan anak. Bener tidak Ibu-ibu ?

sumber gambar : http://www.antaranews.com/foto/13735/semprot-hama

Selain itu pestisida merupakan zat berbahaya bagi tubuh dan alam ini. Jika kita terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung pestisida, akan menimbulkan gangguan kesehatan yang berbahaya bagi  tubuh. Beberapa penyakit yang bisa ditimbulkan dari kontaminasi zat berbahaya ini adalah : bayi lahir cacat, kanker, diabetes, kemadulan, obesitas dan beberapa penyakit lainnya. 

Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan tubuh adalah dengan mengkonsumsi makanan bebas pestisida. Terutama karena pestisida yang menempel pada makanan ini, secara kasat mata tidak bisa dilihat dan dideteksi. Sayuran dan buah-buahan organik memang tersedia di supermarket. Tapi setahu saya harganya mahal sekali, bisa 2x bahkan 4x lipat lebih mahal dari harga sayuran biasa. Bisa-bisa amsiong dan uang belanja nombok kalau belanja sayuran organik πŸ˜€. Karena itu kita perlu menanam sendiri, agar kesehatan dan dompet bisa terjamin dan aman. Karena kesehatan adalah sebuah investasi jangka panjang yang tidak ternilai oleh uang.

Lombok atau cabai merupakan tanaman yang wajib di tanam karena merupakan salah satu bumbu masak yang di pakai setiap hari

Kegiatan menanam yang dilakukan Bosowa Semen dalam Program CSR Budi Daya Tanaman Organik bersama KWT Desa Baruga dan Desa Tukamasea, bisa menjadi contoh bagi kita semua. Program budi daya yang dilakukan dalam serangkaian kegiatan bersama warga, sampai saat ini telah berhasil melaksanakan beberapa kegiatan sbb :

➤ Menyelenggarakan workshop pertanian dengan tema pola hidup sehat dengan tanaman organik
➤ Mengajak para anggota KWT untuk studi banding. Beberapa kegiatan studi banding yang di lakukan adalah dengan mendatangi contoh pertanian organik di Kelurahan Leang-leang, studi banding ke BPP di Kec. Bantimurung dan ke Balai Proteksi Pertanian Sul-Sel
➤ Pelatihan pembibitan sayuran ke poly bag
➤ Pelatihan pembuatan pupuk cair organik dan bio pestisida
➤ Pemberian motivasi kepada para anggota KWT, dengan cara diadakannya kegiatan perlombaan pemanfaatan pekarangan rumah dengan sayuran organik
➤ Pelatihan pembuatan bibit
➤ Pelatihan cara masak yang benar bekerja sama dengan puskesmas Bantimurung

Semua kegiatan diatas dilaksanakan oleh BPT Kec. Bantimurung yang telah ditunjuk oleh Bosowa Semen sebagai mitra  pelaksana.

Belajar Dari Wanita Tani


Saya bersama Ibu Lia

Sabtu kemarin tanggal 26 Agustus 2017 saya berkesempatan bertemu dengan Ibu Lia, koordinator KWT Desa Tukamasea yang pada siang itu sudah menunggu saya bersama suaminya. Saya bertemu beliau di rumahnya, dalam rangka melihat langsung program CSR yang katanya telah sukses mengangkat warga desa menjadi mandiri pangan. Karena awalnya saya sempat tidak percaya jika di daerah yang panas ini ada sekelompok wanita yang berhasil menanam bumbu dapur dan sayuran di pekarangan mereka. Sebagai warga kota yang belum genap setahun tinggal di Makassar, setiap lewat Kab. Maros yang saya lihat adalah karst, pesawahan dan roti Maros πŸ˜†. Oleh karena itu untuk membuktikan semua berita daring yang saya baca dan wawancara singkat via telepon dengan Bapak Nur Alang, saya bertekad untuk datang langsung ke desa Tukamase.

Dari hasil pembicaraan singkat yang saya lakukan dengan Ibu Lia, saya dapat menarik kesimpulan bahwa program yang telah terbentuk hampir 2 tahun ini telah membawa banyak manfaat baik bagi warga Desa. Baik manfaat dari segi kesehatan, segi ekonomi dan segi keharmonisan keluarga. 

Bertani dengan memanfaatkan lahan pekarangan tidak pernah terbersit sebelumnya dalam benak Ibu Lia. Sampai akhirnya Bosowa Semen mengajak para warga desa untuk ikut serta dalam kegiatan KWT ini. Dari awal terbentuknya KWT di desa ini, langsung di bentuk 5 kelompok tani. Dimana setiap kelompoknya beranggotakan kurang lebih 20 orang. Ibu Lia merasa senang dengan keterampilan yang dimilikinya saat ini. Karena dengan menanam tanaman sendiri, para anggota KWT bisa memastikan sayuran dan bumbu-bumbu yang mereka konsumsi aman dan menyehatkan.  Selain itu manfaat dari segi ekonomis bisa dirasakan dengan nyata, sayuran dan bumbu dapur seperti cabai,tomat dan bawang yang tadinya menjadi cost yang harus dikeluarkan setiap hari berubah menjadi bukan cost lagi.

Tanaman terong yang di tanam di dalam poly bag

Bayangkan jika dalam sehari cost yang dikeluarkan untuk membeli sayuran dan bumbu dapur misalnya Rp. 5.000,- sampai Rp. 10.000,- berapa banyak uang yang bisa disimpan selama hampir dua tahun berjalannya program ini. Sampai saat ini Bosowa Semen masih terus mendukung program KWT di 2 Desa ini. Dukungan berupa supply poly bag, benih tanaman,  kegiatan perlombaan dan lain-lainnya masih terus di jalankan oleh Bosowa Semen.

Data di ambil dari Laporan Rekap KWT Desa Bagura dan Desa Tukamasea (Comdev&Environment Dept. Bosowa Semen)

Sampai saat ini ada 15 KWT yang telah yang dibina oleh Bosowa Semen, beranggotakan 654 orang anggota yang tersebar di Desa Barugae dan Tukamasea. Sayapun sempat menanyakan kepada Bu Lia, bagaimanakah sistem pelaporan dari kegiatan ini. Bu Lia menjelaskan bahwa setiap bulan beliau mengadakan pertemuan dengan semua anggota, dan dalam pertemuan tersebut selalu ada sesi sharing. Berbagi tentang kendala yang ada dan pencapaian yang telah diraih oleh setiap lahan pertanian rumah yang dimiliki anggota. Begitupun dengan permasalahan pembagian bibit dan polybag. Setiap bibit dan polybag yang dibagikan ke anggota akan dicatat oleh masing masing koordinator. Dan akan dilaporkan berkala kepada pihak Bosowa Semen.


Warga Desa juga diajarkan mengolah kotoran menjadi pupuk organik. Bahan pupuk didapat dari hewan peliharaan di tiap desa. Ini adalah photo kotoran sapi yang sedang memang sengaja dijemur dan didiamkan selama 2 minggu, sampai gas dalam kotorannya hilang dan siap di olah menjadi pupuk organik.

Sebagai informasi tambahan, Bu Lia dan Pak Rahman mengajak saya mengunjungi green house di KWT Dusun Bungaeja. Setiap kelompok KWT difasilitasi dengan sebuah green house, fungsi dari green house ini adalah untuk pembibitan dan karantina tanaman. Jadi bibit akan disemai di green house, sampai tumbuh menjadi bibit tanaman siap tanam. Seperti contoh untuk tanaman cabe, diperlukan waktu waktu sekitar 2 minggu untuk muncul bibit. Kemudian bibit tersebut akan dipisahkan satu persatu ke dalam gelas plastik kecil. Dari proses tersebut dibutuhkan 2 minggu lagi untuk siap ditanam ke polybag. Ada seorang angota yang akan ditunjuk untuk mengelola green house, ketika para anggota membutuhkan bibit tanaman. Mereka bisa datang ke green house dan mengambil tanaman ke penanggung jawab green house.

Tanaman Betadine adalah salah satu tanaman TOGA yang di tanam di sini

Selain tanaman sayuran para anggota KWT juga diajarkan untuk menanam TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Sebagai apotik hidup yang bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar, jika membutuhkan tanaman herbal. Berbicara mengenai program budidaya tanaman organik di Desa Tukamasea, saya melihat peran serta warga yang ikut dalam program ini tidak hanya sebatas peran para Ibu-ibu saja. Disetiap kesuksesan lahan pertanian yang ada di setiap pekarangan rumah, dibalik itu semua pasti ada tangan-tangan kuat dan dan kokoh dari para suami. Para suami yang sayang istri ( pastinya ya πŸ˜‰) tidak hanya memberikan dukungan moril saja. Banyak dari mereka yang bahu membahu membantu para Ibu-ibu anggota KWT dalam menanam sayuran, menata tanaman di rak bambu yang dibuat menyerupai tangga, belum lagi sibuk mencarikan pupuk kandang. Pokoknya jempol πŸ‘ deh buat Bapak semua.

Bapak Hilman suami Ibu Lia bahkan menceritakan kepada saya, bagaimana pedulinya ia terhadap tanaman organik keluarganya. Pulang dari ladang beliau tidak segan membantu sang istri menyirami tanaman. Begitupun dengan suami ibu Hanasiah salah satu anggota KWT yang secara tidak sengaja bertemu saya kemarin, dalam obrolan singkat yang lakukan beliau mengatakan bahwa tanaman organik ini bisa menurunkan tingkat stress. Melihat tanaman yang mereka tumbuh dan berbuah, rasanya seperti mendapatkan kebahagiaan tersendiri.

Ibu Lia bersama Ibu Nur penanggung jawab green house di Dusun Bungaeja

Budi daya tanaman organik memang telah terbukti menjadi sebuah kegiatan yang positive bagi para Wanita di Desa Tukamasea. Saat ini bisa dibilang mereka sudah menjadi masyarakat yang mandiri pangan untuk produk makanan sayuran hijau, cabai,tomat,bawang, terong, kacang dan beberapa tanaman lainnya. Program ini pun ikut berperan dalam terciptanya hubungan harmonis antar anggota keluarga. Dengan melakukan kegiatan menanam di pekarang rumah, komunikasi antar anggota keluarga menjadi lebih terjaga dan berkualitas. Dan hal tidak kalah pentingnya adalah mereka sedang mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang kebaikan menanam bagi diri sendiri dan bagi bumi. 

Setiap hal pasti akan menemui kendala dan tantangan, begitupun dengan Program CSR KWT ini. Kendala terbesar yang di hadapi adalah kurangnya aliran air di desa mereka. Terutama ketika musim kemarau datang, Bosowa Semen turun tangan memberikan bantuan air kepada warga desa. Walaupun supply bantuan air tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan yang ada. Selain itu kendala yang dihadapi adalah sapi peliharaan yang menjadi ancaman bagi tanaman. Ketika musim panen tiba, sapi warga dibiarkan bebas berkeliaran. Akhirnya banyak sapi yang nyasar mencari makan ke kebun tanaman organik πŸ˜†. Hal ini membuat para Bapak-bapak tergerak membuatkan pagar bambu untuk menutupi pekarangan. Sapi aja doyan makanan organik πŸ˜€.

Manfaat Mengedukasi

Bibit sawi yang siap di pindahkan ke media tanam gelas

Sebuah pepatah kuno yang mengatakan " Memberi pancing lebih baik dari pada memberi ikannya ", yang kurang lebih berarti : memberikan pancing agar orang bisa belajar memancing untuk mencari makan dan bertahan hidup jauh lebih baik di banding memberikan ikan begitu saja. Pancing ini diibaratkan sebagai sebuah keterampilan yang bisa menghasilkan. Program CSR KWT ini saya lihat seperti sebuah pancing yang diberikan bagi warga Desa. Dari keterampilan yang di ajarkan ini, mereka bisa menanam dan menerima banyak manfaat lainnya. 



Beberapa contoh manfaat telah banyak saya sebutkan di atas, baru-baru ini ada manfaat lainnya yang bisa dirasakan secara nyata. Yaitu manfaat secara ekonomi dari menjual tanaman organik atau menjual hasil panen ke masyarakat umum. Menurut informasi yang saya dapatkan, sudah ada beberapa anggota yang berhasil menjual tanaman cabai dengan harga Rp. 35.000,- per poly bag, bahkan ada yang telah sukses menjual 50 buah banyaknya. Sebagai salah satu desa yang bisa di katakan sukses dalam budi daya tanaman organik, Desa Tukamasea selalu menjadi tempat yang di rekomendasikan ketika para Pejabat Kabupaten mencari bibit tanaman organik. 

Program CSR ini yang awalnya merupakan sebuah bentuk tanggung jawab Bosowa Semen, guna ikut serta berkontribusi secara sosial dan ekonomi terhadap keberlangsungan masyarakat sekitar. Program CSR KWT ini sudah berhasil menjadi sebuah program yang tidak hanya menghasilkan dari segi ekonomi saja. Program ini juga menjadi salah satu faktor pendukung dalam terciptanya keluarga yang sehat dan harmonis. Bosowa Semen berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam memberdayakan masyarakat sekitar dan tetap meminta pastisipasi aktif dari masyarakat. Karena sebuah program CSR akan berjalan sukses bila kedua belah pihak mau ikut berperan serta dan ikut aktif melakukan kegiatan yang telah disepakati.

Pagar yang melindungi tanaman dari sapi peliharaan

Kegiatan yang positif akan menciptakan banyak potensi positif di masyarakat luas. Bosowa Semen berharap dengan hadirnya kegiatan seperti itu, maka hal tersebut akan juga memberikan berdampak positif pada Perusahaan. Seperti terjaganya kelancaran kegiatan operasional pabrik, berkurangnya potensi resiko bisnis serta terjalinnya hubungan baik dengan masyarakan sekitar. Dengan begitu kegiatan bisnis dan pengembangan bisa terlaksana dengan lancar.

Dengan berkembangnya Program CSR KWT ini, Bosowa Semen memberikan apresiasi kepada para anggota ditiap KWT. Yaitu dengan memberikan layanan kesehatan gratis dari Puskesmas, setiap satu bulan sekali. Program ini merupakan pengembangan dari program sebelumnya, setelah bisa dikatakan sukses menanam dan mengkonsumsi tanaman organik. Kesehatan warga desa pun di pantau, sebagai bahan refensi bahwa konsumsi tanaman organik bisa meningkatkan kondisi kesehatan masyarakat.

Buku pemeriksaan kesehatan yang di lakukan oleh Puskesmas

Asupan makanan yang kita makan menentukan kondisi kesehatan badan kita dimasa yang akan datang. Dan pestisida merupakan zat tidak cuma berbahaya bagi tubuh manusia, pun berbahaya bagi lingkungan kita. Bahayanya pestisida bagi tubuh manusia dan lingkungan hidup adalah sbb :

Bahayanya bagi kesehatan tubuh manusia, sbb :
➤ Berbahaya bagi pertumbuhan otak. Jenis pestisida tertentu berbahaya bagi pekembangan otak manusia.
➤ Menimbulkan masalah bagi perkembangan anak. Bisa menyebabkan bayi lahir cacat dan autisme.
➤ Mempengaruhi kesehatan reproduksi
➤ Menimbulkan Alergi
➤ Hingga menyebabkan kanker

Bahayanya bagi kesehatan lingkungan, sbb :
➢ Terjadinya ganguan ekosistem lingkungan
➢ Ledakan polulasi hama, ketika predator hama punah karena pestisida hal tersebut akan menimbulkan ketimpangan dalam rantai makanan. Dengan begitu populasi hama bertambah secara tidak wajar
➢ Hilangnya unsur hara tanah yang terkandung dalam tanah, sehingga tanah tidak subur lagi untuk di tanami
➢ Punahnya spesies fauna, pestisida yang mengkontaminasi lingkungan akan berdampak sangat buruk bagi flora dan fauna yang hidup di dalamnya


Gerakan menanam tanaman organik patut kita dukung dan apresiasi, dengan menanam supply makanan bisa tersedia setiap saat. Menanam juga bisa menjadi therapy bagi jiwa karena dengan menanam kita belajar bersabar dan berproses. Jika hasilnya sukses, hati akan terasa bahagia. Menanam juga artinya kita mencintai dan menghargai bumi ini, pun bisa jadi contoh yang baik bagi anak-anak kita. Dengan menanam sayuran sendiri, anak-anak akan belajar menghargai proses dan termotivasi untuk ikut serta menjaga alam.

Bosowa Semen bersama warga Desa Tukamasea bekerja sama dan bahu membahu dalam usaha menciptakan keluarga sehat dengan makanan yang bebas pestisida. Keluarga sehat akan menghadirkan generasi penerus yang sehat juga dan bertumbuh kembang baik. Karena anak-anak ini di masa yang akan datang akan menjadi generasi penerus bangsa. Serta akan menjadi para pemimpin masa depan yang di harapkan bisa menjadi pemimpin Indonesia bahkan Dunia. Dengan memperbaiki asupan makanannya, Bosowa Semen berupaya menciptakan generasi muda Sulawesi Selatan yang sehat dan menghargai alam. Inilah salah satu bentuk upaya yang di akukan Bosowa Semen dari Makassar untuk Indonesia

Mari kita bersama-sama ciptakan keluarga sehat dan bebas pestisida. Bersama Bosowa Semen kita berdiri, keras dan kuat untuk membangun masyarakat yang mandiri pangan serta mampu mengadapi segala tantangan zaman. Semua ini bisa dimulai dengan niat dan tekad dari pekarang rumah masing masing.

Ki-ka : Pak Rahman, Ibu Lia, Saya, Ibu Hanasiah dan Suami




Sumber informasi tulisan :
- https://maroskab.go.id/geografi
- http://bsfm.maroskab.go.id/2016/01/bosowa-ajak-study-banding-kelompok.html
- https://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian_organik
-https://health.detik.com/read/2012/08/13/175334/1990245/766/7-penyakit-mengerikan-akibat-makanan-yang-tercemar-pestisida
- https://id.wikipedia.org/wiki/Dampak_lingkungan_dari_pestisida
- Rekap daftar KWT Desa Baruga dan Tukamasea
- MOU BPP Pertanian
- http://www.antaranews.com/foto/13735/semprot-hama
- http://indotopinfo.com/pengaruh-pestisida-terhadap-kesehatan.htm






















You Might Also Like

17 komentar:

  1. Sukaaaa ma tulisannya Awie. Selalu saja padat bergizi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak Ka Abby. Saya juga suka sama tulisan Kaka πŸ’.

      Hapus
  2. Detil banget ulasannya 😍 keren teh awie!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak Alfu πŸ’

      Hapus
  3. kayaknya ketiggalan info ka soal CSR nya Bosowa Semen. Saya kira kemarin hanya program pendidikan yang dilaksanakan ternyata ada juga program ke masyarakat seperti ini. Kalau menurut ku bagus juga idenya Bosowa mensejahterakan masyarakat sekitar pabrik. Dengan begini hubungan antara industri dan masyarakat sekitarnya jadi lebih baik. Dari ulasannya saya malah jadi tertarik ikut bagian dari programnya soalnya keren dan kapan lagi bisa belajar berkebun bersama masyarakatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk Program CSR memang tidak begitu banyak di jelaskan ketika Media Gathering. Tapi seingat saya ada banyak sekali programnya. Salah satunya Program KWT ini. Pihak Bosowa Semen sangat welcome qo kalau ada blogger atau media yang mencari informasi mengenai program2 mereka. Yuk ikut bagian dari masyarakat sehat dan mandiri pangan.

      Hapus
  4. WAW!!!
    ini baru mantap.
    Dioleh-olehin terong gak kemarin itu?
    Keren ini Wie tulisannya mengulas dalam, lengkap, program CSR Bosowa Semen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Ka Novie atas apresiasinya. Enggak di oleh-olehin Ka, saya belanja tanaman cabai dan seledri. Senang liat tanaman2 sayur mayur tumbuh subur di pekarangan. Padahal bambang na Allo banget 😬.

      Hapus
  5. Keren teh Awie langsung ke lokasi melihat program CSR nya, tulisannya lengkap dan bikin kepo pengen kesana juga. Salut dengan program bebas pestisida ini, secara akhir-akhir ini banyak penyakit yang diakibatkan banyaknya bahan kimia yang masuk di tubuh.
    Good Luck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Inar. Iya saya juga berfikir seandainya setiap rumah tangga di manapun di Indonesia mau belajar pertanian organik. Pemerintah nggak perlu pusing harus import sayur mayur dari luar 😊.

      Hapus
  6. Senang kl liat ada industri yg peduli dan ikut mensejahterakan masyarakat sekitarnya. Sehingga tdk terjadi kecemburuan sosial

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali Ka, Program seperti ini menguntungkan kedua belah pihak.

      Hapus
  7. Lengkap banget mba Awie, aduh jadi pengen bercocok tanam juga niihh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mba Aya, sayapun jadi pengen menanam tanaman organik di rumah. Maunya sih gitu, tapi baru niat doang 😁✌️.

      Hapus
  8. Super lengkap dan detail mak.. Mesti dibaca sama yang hobi bercocok tanam nih, terutama ibu rumah tangga ^^ Salut deh sama Bosowa Semen yang mau mendukung dan memajukan bidang pertanian gini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat IRT menanam tanaman organik bagaikan sebuah hiburan menyenangkan sekaligus menguntungkan 😊. Terimakasih Anindita sudah mampir πŸ™πŸ’.

      Hapus
  9. Betuul, kalau bahan makannya udah sehat, tumbuh kembang anak juga lebih baik ya, mbak.

    BalasHapus